PDA

View Full Version : Cornelis Chalestein - Kaum Huguenot di Depok



opie
09-16-2014, 10:37 AM
Pada masa pemerintahan Louis XIV tahun 1660 Prancis mengalami masa kelam dalam hal keragaman budaya, dimana kaum Huguenot diburu & dianiaya karena mengkritisi rezim gereja Katolik yang berkuasa di Eropa pada abad pertengahan (medival age).

Louis XIV bahkan harus mencabut dekrit "Edit de Nantes" (dekrit memberikan perlindungan bagi Huguenot) & menggantinya menjadi "Edit de Fontainbleau" yang menyatakan agama Kristen Protestan itu ilegal.

Dampaknya, sekitar 200.000 jiwa meninggalkan Prancis ke berbagai tujuan hingga Australia & sedikit di antaranya datang juga ke bumi Nusantara.

Adalah Cornelis Chastelein seorang Huguenot asal Belanda yang berlayar ke Nusantara pada usia 17 tahun & tiba dengan selamat di Batavia.

Cornelis Chalestein pernah bekerja sebagai boekhouder, grootwinkelier & opperkoopman des casteels VOC hingga tahun 1691.

Cornelis Chalestein kemudian membeli tanah di Gambir, Srengseng (daerah Lenteng Agung), Mampang & Depok untuk mengembangkan pertanian & perkebunan kopi, tebu & lada. Karenanya ia membutuhkan budak yang didatangkan dari Makassar? Nusa Tenggara Timur, Bali, Bengali & India.

Karena teringat larangan perbudakan dalam agama Kristen Protestan, pada 13 Maret 1714, Chalestein menulis surat wasiat yang berisi pembebasan budak2nya & membagi seluruh tanahnya kepada budak2nya.

Pada 28 Juni 1714 Chastelein meninggal dunia.

Menurut Edward Arnold Loen, Ketua DewN Pembina Yayasan Lembaga Cornelis Chalestein, setelah meninggalnya Chalestein, budak2 itu membentuk klan "Eropa Depok" yang berisi 12 Kelompok marga yaitu Isakh, Jacob, Jonathans, Samuel, Bacas, Leander, Laurens, Loen, Soedira, Tholense & Zadokh. Dari semua marga hanya Zadokh yang tidak punya keturunan & punah.

Bagi budak2 yang beragama non- Kristen Protestan, mereka dimerdekakan & bebas memilih jalannya. Pembebasan budak ini merupakan terobosan & mendahului jamannya, karena Hindia-Belanda baru menghapuskan perbudakan pada medio akhir 1800an.

Pada tahun 1700 Chastelein mendirikan gereja Protestan di Depok & kelompoknya menamakan diri Jemaat Masehi yang merupakan jemaat pertama di Depok.

Edward Arnold Loen mengatakan Chalestein tidak melarang budaknya berbicara bahasa Belanda meski saat itu dinilai tidak pantas. Tradisi berbahasa Belanda ini yang akhirnya mereka disebut "Belanda Depok".

Mungkin coret2an di atas sedikit membuka tabir sejarah orang "Belanda Depok"

Sumber: "Petite Histoire de L'Indonesie et du Francais 1800 - 2000", Jean Rocher & Iwan Santosa

gempitara
01-19-2017, 09:44 AM
ternyata depok pernah di datangi oleh orang belanda

ellondro
02-28-2017, 11:47 AM
pantesan di depok banyak keturunan bule