Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 4 of 4
  1. #1

    KNOWLEDGE PRODUCTION & FONDASI HISTORIS ORIENTALISME : Pengantar Untuk Suma Orienta

    DR. SRI MARGANA (DOSEN SEJARAH UGM)
    The Age of Discovery dan Orientalisme

    The Suma Oriental-150x228.jpg


    Dalam kronologi sejarah Barat, periode Awal Modern yang dimulai dari abad ke-16 sering juga dikenal sebagai “the age of discovery” atau abad penemuan dunia baru. Pada periode ini banyak bangsa di Eropa Barat setelah pelayaran-pelayaran mereka yang pertama mengarungi samudra, khususya setelah Christopher Columbus menemukan Benua Amerika, giat melakukan ekspedisi-ekspedisi penjelajahan samudra. Ekspedisi-ekspedisi arung samudra ini, di samping didorong oleh kompetisi untuk menunjukkan keunggulan mereka dalam arung samudra tetapi juga oleh kehausan akan ilmu pengetahuan tentang dunia baru, terutama dari dunia Timur. Di masa inilah awal sebenarnya sejarah dunia dalam perspektif Eropa dimulai, yaitu ketika dunia dibagi menjadi Barat dan Timur, dan Barat menjadi pelaku-pelaku utama dari sejarah. Dunia Timur tidak pernah muncul dalam sejarah dunia sebelum “ditemukan” oleh bangsa Barat. Dengan kata lain, seolah-olah, dalam perspektif Barat, sejarah bangsa-bangsa Timur baru dimulai ketika bertemu atau bersentuhan dengan Barat. Dari sinilah sebenarnya pula, pikiran-pikiran orientalistik itu berawal, yaitu proses menimurkan Timur, atau dunia Timur yang dilihat dari kacamata Barat. Hasil terbesar dari ekspedisi arung samudra oleh Bangsa Barat ke dunia Timur pada awal abad ke-16 adalah knowledge production (produksi pengetahuan). Dan sampai dua abad terakhir ini historiografi dunia Timur masih sangat tergantung kepadanya.

    Textual Empire dan Produksi Pengetahuan

    Ketika kolonialisme Barat mencapai puncaknya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kegiatan orientalis telah melahirkan banyak karya besar yang disebut dengan “textual empire”, berupa penerbitan karya-karya besar dari para penjelajah dan pemimpin-pemimpin koloni tentang dunia Timur, yang hingga sekarang masih menjadi bahan rujukan penting dalam rekonstruksi sejarah bangsa-bangsa di wilayah ini. Dimulai dari laporan-laporan ekspedisi samudra dan daratan, pengalaman penaklukan hingga karya-karya sejarah besar oleh sejarawan-penguasa kolonial. Sebuah laporan tentang pelayaran ke Hindia timur, The description of a Voyage Made by Certain Ships to the East Indies yang dilakukan pada tahun 1695 diterjemahkan dan diterbitkan pada tahun 1697. Pengalaman tragis para penjelajah Barat yang dibantai oleh penduduk Banten pada tahun 1641, Exacrable and Barbarous Muder Done by East-Indian Devil or a Native of Java Major diterbitkan padatahun 1642. Tak lama kemudian The Voyage of Siam karya Guy Tachard diterbitkan juga di London pada tahun 1688. Pada saat yang sama Charles Frederick Noble menerbitkan Voyage to the East Indies. Pada tahun 1700, pengalaman dua pengarung samudra Christoper Fryke da Christoper Schewitzer, A Relation of Two Several Voyages made into
    East-Indies diterbitkan pula.

    Memasuki abad ke-19 pengalaman John Joseph Stockdale sebagai militer Inggris yang menjelajahi Jawa, Sketches, Civil and Military of the Island of Java, diterbitkan pada tahun 1811. Tentu yang tidak kalah menarik dari berberapa penerbitan itu adalah laporan William Barrington D’Almaida, seorang keturunan Inggris-Portugal yang tinggal di Singapura yang melakukan penjelajahan dari ujung barat hingga ujung timur Java yang diterbitkan dalam dua jilid Live in Java, pada tahun 1846. Ketidakpuasan D’Almeida atas berbagai terbitan laporan perjalan bangsa-bangsa Eropa pendahulunya yang dipandangnya terlalu dangkal, [sehingga] ia melakukan ekspedisi dan ikut merasakan pengalaman hidup di Jawa. Aktivitas-aktivitas sosial budaya orang Jawa, ia saksikan bahkan ikut melibatkan diri di dalamnya. Ia pun tidak hanya melihat dan mengamati, tetapi juga mewawancari tokoh-tokoh atau pelaku-pelaku penting dalam kegiatan sosial budaya itu. Hasilnya adalah sebuah laporan yang tidak sekadar berisi kesaksian tetapi juga pengalaman.

    Kontribusi para pelancong Belanda juga banyak, walaupun sebagian besar laporan-laporan mereka baru diterbitkan pada abad ke-19. Dimulai dari Rijklofs Van Goens, seorang duta terbesar VOC ke istana Mataram pada abad ke 17, yang menuliskan laporannya selama lima kali mengunjungi istana Mataram. Laporan yang diberi judul Javaense Reyse ini diterbitkan pada tahun 1667 tidak lama sebelum jatuhnya istana Mataram di Plered. Van Goens adalah duta kesayangan Amangkurat I, karena ia selalu datang dengan hadiah-hadiah yang ia sangat sukai.

    Di samping itu, ia juga sedikit menguasai bahasa Jawa dan tahu bagaimana harus menyenangkan sang raja. Di antara puluhan duta VOC yang dikirim ke Mataram, ia duta yang paling berhasil karena berhasil menghasilkan kesepakatan-kesepakatan penting dengan Mataram. Laporan-Laporan para Gubernur Jenderal dan para pejabat VOC lainnya selama mengunjungi Jawa dan beberapa pulau lain di Indonesia juga diterbitkan dalam terbitkan kolonial. Karya J.K.J De Jonge, De Opkomst merupakan himpunan penerbitan arsip-arsip ekspedisi pejabat VOV yang paling panjang. Pada tahun 1822, J. Th. Bik, menerbitkan Aanteekeningen nopens eene reis naar Bima, Timor, de Moluksche eilanden, Menado en Oost-Java. Pengalaman H.J.C Hoogeven menjelajahi Gunung Merapi di Jawa Tengah saat gunung ini meletus pada tahun 1865, Togten naar den Merapi in Midden Java tijdens zijn eruptie in November en December 1865 juga diterbitkan.

    Di samping laporan-laporan itu, tentu knowledge production tentang masyarakat dan dunia Timur oleh bangsa Barat juga ditulis dalam berbagai buku. Tiga sejarawan Inggris, Thomas Stamford Raffles menulis History of Java (1817), William Marsden menulis History of Sumatra dan John Crawfurd menulis History of the Indian Archipelago. Tidak kalah P.J. Veth menerbitkan tiga seri tentang sejarah, etnografi dan georgrafi Jawa dalam Java: Geographisch, Ethnologisch en Historisch. Teks-teks “imperium” ini ditulis untuk beberapa alasan utama. Pertama, memenuhi gejolak pencarian, perekaman dan penyebaran pengetahuan tentang dunia Timur. Kedua, upaya meyakinkan negeri Induk tentang potensi negeri-negeri Koloni yang layak untuk dipertahankan untuk masa depan bangsa-bangsa penjajah. Ketiga, sebagai monumen atas kerja besar yang mereka lakukan selama memimpin atau berada di koloni

    Selengkapnya

  2. #2
    wah boleh ni di share buku buku tentang sejarahnya
    Sejarawan muda - www.siputro.com
    Belom ada yang memiliki

  3. #3

  4. #4
    terimakasih banyak atas sejarahnya yang telah di bagikan ke kami semoga ilmu ini bisa kami jadi kan sejarah untuk anak cucu ku nanti

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •