Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 5 of 5
  1. #1

    Menilik Sejarah Kampung Pulo, Kampung Bersejarah yang Akan Digusur

    Pada dasarnya Kampung Pulo ini berdasarkan pada lembaga yang dipelajari tahun 2000, warga Kampung Pulo telah mendiami tanah tersebut sebelum masa kemerdekaan, tepatnya tahun 1930-an. Kampung Pulo merupakan sebuah wilayah yang berada di tanah Indonesia dan telah menjadi pemukiman warganya sejak sebelum Indonesia merdeka, tepatnya Kampung Pulo ini telah ada sebelum tahun 1930. Warga yang paling banyak atau mayoritas penghuni Kampung Pulo ini ialah warga Indonesia suku Betawi, namun pada tahun 1970-an mulai berdatangan banyak warga dari daerah ‘kulon’, Bogor, dan sekitarnya. selain dari jenis warga Betawi, ada pula berbagai etnis yang mendiami Kampung Pulo ini seperti etnis Tionghoa, keturunan arab, Padang, dan Batak.

    Kampung Pulo Masa Penjajahan Belanda

    Pada masa penjajahan Belanda, Kampung Pulo yang memiliki luas 8.575 hektar tersebut didiami oleh penduduk yang berjumlah 3.809 kepala keluarga. Kampunng Pulo merupakan wilayah yang termasuk ke dalam kawasan Meester Cornelis. Penelitian yang dilakukan oleh Ivana Lee, seorang pendamping warga dari LSM Ciliwung Merdeka menemukan sebuah fakta historis bahwa Meester Cornelis Jatinegara tersebut merupakan salah satu pusat yang memiliki fungsi pertumbuhan bagi kota Jakarta selama 4 abad. ada banyak kekhasan dari Kampung Pulo ini, yakni adanya sejumlah situs religi dan tipologi arsitektur bangunan tempo dulu.

    Pada jaman dahulu, warga Kampung Pulo memiliki tradisi untuk memakamkan anggota keluarga di rumah sendiri, sehingga banyak ditemukan makam yang berada di dalam rumah. Dalam skala Geografis, kampung Pulo dikelilingi oleh sungai Ciliwung yang memiliki panjang + 1,9 km. Sungai tersebut membatasi Kampung Pulo dengan Bukit Duri Tanjakan. Dari Kampung Pulo ini, banyak guru agama yang mengajarkan ilmunya kepada masayarakat Jakarta seperti Nyai Salmah yang merupakan seorang ibu dari seorang ulama besar betawi bernama Al-Habib Ali Al-Habsyu Kwitang yang berasal dari wilayah ini.

    Di kampung Pulo ini pula Al-Imam Al-Ariefbillah Al-Habib Husein bin Muchsin Al-Aidrus, seorang yang ditokohkan dan keturunan Habaib dari Kalangan Al-Aidrus hidup. Beliau wafat di kampung tersebut dan dimakamkan pula disana, sehingga Kampung Pulo lebih dikenal dengan Kramat Kampung Pulo. Selain itu, ditempat ini juga terdapat sebuah mushola tertua di Kampung Pulo yang didirikan tahun 1927 dengan nama Al-Awwabin dan rumah yang berlanggam Betawi yang kini diyakini memiliki usia lebih dari 100 tahun.

    Jatinegara atau Kampung Pulo juga merupakan sebuah pemukiman para pangeran kesultanan Banten pada abad ke 17, kemudian pada tahun 1661 Cornelis Senen yang merupakan seorang guru agama membeli tanah di daerah aliran sungai Ciliwung. Sehingga kawasan ini kemudian berkembang menjadi sebuah pemukiman dan pasar, yang disebut sebagai Meester Cornelis. Kampung Pulo juga dulunya dianggap sebagai nusakambangannya dari wilayah Jatinegara, sebab dibandingkan dengan kampung lainnya kampung ini lebih tertutup. Selain itu para pejuang yang berasal dari Kampung Pulo, termasuk pendakwah, dan masayarakat pada umumnya jarang atau tidak terlalu terekspos, apalagi bisa masuk dalam catatan sejarah.

    Pada masa awal, Kampung Pulo merupakan sebuah hutan yang berada pada kawasan Meester Cornelis. Sebagian wilayah pada hutan ini kemudian dibuka oleh lima bersaudara, yakni Aril, Rihen, Banda, dan dua saudaranya yang lain yang namanya masih anonim. Ke-lima bersaudara ini diberikan wewenang oleh pemerintahan kolonial Belanda, wewenang tersebut berupa pemberian 2 buah surat verponding yang akan menjadikan ke-lima bersaudara tersebut sebagai tuan tanah yang nantinya akan menarik pajak dari penduduk atau pemukim. Semenjak saat itulah, Kampung Pulo telah menjadi sebuah pusat Perniagaan di daerah Timur Batavia (Jakarta sekarang). Pertumbuhan ekonomi di Kampung Pulo ini berlangsung amat cepat, sebab di daerah ini terdapat sebuah pasar dalam skala regional dan juga stasiun kereta Api Jatinegara. Saat ini, masih ada beberapa situs sejarah yang ditinggalkan Kampung Pulo masa lalu, yakni Makam Habib Husain bin Muksin bin Husin Al-Aidrus yang juga biasa disebut dengan Shohibul makam yang telah ada sejak tahun 1830 dan sebuah makan Kyai Lukmanul Hakim / Datuk yang juga telah ada sebelum tahun 1930.


    Penggusuran Kampung Pulo, Ciliwung Merdeka vs Pemprov DKI

    Pada hari Kamis, tanggal 20 Agustus lalu, Kampung Pulo yang terkenal dengan langganan banjir ini menjadi sasaran penggusuran Pemprov DKI Jakarta. Meskipun rencana awal pihak Pemprov DKI Jakarta ini baik, yakni untuk merelokasi warga wilayah tersebut agar tidak selalu terkena banjir. Namun karena keputusan sepihak yang dilakukan oleh pihak Pemprov DKI Jakarta serta klaim yang menyatakan bahwa mereka merupakan penghuni liar di kawasan tersebut membuat warga marah dan akhirnya menolak untuk direlokasikan.

    Sebelumnya pada tanggal 24 Juli 2015, diadakan pertemuan antara Tim Ciliwung Merdeka dengan Kepala Dinas Tata Kota dan Balai Besar Ciliwung Cisadane yakni Teuku Iskandar. Dalam pertemuan tersebut sebenarnya warga Kampung Pulo tidak merasa keberatan direlokasi dan tidak menolak normalisasi sungai Ciliwung, ASALKAN telah ada kesepakatan tertulis antara perwakilan komunitas Kampung Pulo dengan Gubernur DKI Jakarta yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang tertulis dalam bentuk Memorandum of Agreement (MOA). Namun karena keputusan penggusuran sepihak oleh pihak Pemprov DKI Jakarta serta klaim yang menyatakan bahwa tanah yang dihuni warga tersebut merupakan tanah liar milik Negara, akhirnya bentrok antara petugas penggusuran dan wargapun tidak terbantahkan.

    Menurut Tim / komunitas Ciliwung Merdeka, tanah yang kini didiami warga Kampung Pulo merupakan tanah sah milik warga bahkan sebelum tahun 1930. Dasar untuk menentukan kepemilikan tanah ini ialah verponding, yang merupakan sebuah surat tagihan pajak atas tanah dan atau bangunan pada masa lampau (saat ini disebut Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan, yang disingkat SPPT-PBB). Surat tanda kepemilikan tanah yang sah ini (verponding) telah diakui oleh pemerintah, yang tercantum dalam Undang-Undang Pokok Agraria pasal 3 No. 5 tahun 1960. Oleh karenanya, dengan lahirnya UU ini pemerintah harus melakukan konversi surat-surat kepemilikan adat ke dalam sertifikasi tanah warga dengan melalui sebuah program Prona dan Larasati.

    Sholeh Husein Alaidrus, yang merupakan seorang tokoh masyarakat, mengemukakan bahwa ia dan warga juga berupaya mengikuti program yang Prona dan Larasati ini. Hanya saja ada sebagian warga yang berhasil dan ada pula sebagian warga yang masih belum berhasil, sehingga kepemilikan tanah adat masih ditandai dengan girik, jual beli di bawah tangan, petuk pajak bumi, dan verponding Indonesia. selain itu, adapula warga yang mengaku untuk dapat meningkatkan sertifikasi tanah tersebut ia harus membayar kutipan sebesar 30 juta rupiah, padahal aslinya peningkatan untuk sertifikasi tanah ini ialah gratis. Menurut Sholeh sendiri, warga memang tidak dapat menunjukan bukti verponding karena pihak kelurahan tidak mencantumkannya.
    sebagai warga Negara Indonesia, penulis tentu merasa amat sedih dengan kejadian penggusuran ini. Kita berdo’a saja semoga masalah yang kini melanda Kampung Pulo ini dapat selesai dengan damai akhirnya.

    sumber bacaan:




    Well, semuanya kembali ke diri kita masing-masing aja lah ya. Pantaskah untuk dirapikan?
    Last edited by lexy; 08-25-2015 at 08:43 AM.

  2. #2
    yah walau gimana pun ya kalo kondisinya seperti itu ya harus ditertibkan
    kalo mau kotanya tersusun rapi ya pasti ada yang dirugikan
    menurut saya si selagi masih dibantu sama pemerintah dalam hal hunian ya ikuti saja
    toh ini bukan rencana latah, semuanya sudah disusun dan dipikirkan baik baik resikonya
    mandiri itu pilihan, cantik itu kebutuhan

  3. #3
    ajiib ni threadnya master

    yah semoga bisa diselesaikan secara kekeluargaan,
    ambil jalan tengah, rumah digusur tapi masyarakat dikasih solusi tempat tinggal
    Membuang sejarah itu bagaikan membuang hasil-hasil penelitian berharga yang telah diteliti dimasa lalu, dan mencoba meneliti dari awal tanpa refrensi masa lalu
    www.sejarawan.com

  4. #4
    Quote Originally Posted by Herodotus View Post
    ajiib ni threadnya master

    yah semoga bisa diselesaikan secara kekeluargaan,
    ambil jalan tengah, rumah digusur tapi masyarakat dikasih solusi tempat tinggal
    sah sah aja kalo mau digusur, karena pada dasarnya semua yang ada di bumi Indonesia ya punya nya negara
    apa lagi posisinya memang berada di tanah negara dan terlarang untuk di dirikan bangunan
    semoga solusi tempat tinggal yang diberikan pemerintah dapar diterima dan tidak memberatkan masyarakat kampung pulo

    kalaupun katanya banyak situs bersejarah, oke saja kenapa tidak dibuat museum atau monumen-monumen. Lebih bermanfaat dan dapat menambah perbendaharaan destinasi wisata seperti di pluit
    Sejarawan muda - www.siputro.com
    Belom ada yang memiliki

  5. #5
    banyak yang mendirikan rumah di sembarang tempat..kebanyakan para pendatang dari kampung halaman mengadu nasib di jakarta

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •