Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 2 of 2
  1. #1

    Agus Salim - Sang Penerjemah yang Ahli 6 Bahasa

    Sarekat Islam yang saat itu dipimpin Qemar Said Cokroaminoto mendapat guncangan akibat banyaknya anggota SI yang keluar karena mengikuti jejak Semaun. Bergabung dengan ‘guru’nya, Hendricus Sneevliet, Semaun kemudian membentuk Partai Komunis Hindia (PKH) sebelum akhimya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Sarekat Islam kemudian berubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Sekalipun demikian, sisa-sisa anggota PSI yang menyatakan din tetap setia pada Islam dan juga kepemimpinan Cokroaminoto — yang dahulu disebut Sarekat Islam Putih — disinyalir tidakjuga bersih dan ‘paham’ komunis. Salah seorang pengurus pusat partai berusaha menghilangkan jauh-jauh ‘paham’ komunis itu dan dalam partai. Ia lantas menyelidiki kondisi internal partainya.

    Dalam penyelidikannya ditemukan, memang masih banyak orang-orang berpaham komunis yang masih ‘bend jam’ di PSI. ‘Penyelidik’ mi lantas menyarankan langkah tegas untuk mengeluarkan orangorang komunis dan PSI dan menerapkan disiplin partai. Ia juga menyarankan merubah nama PSI menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) setelah partainya bersih dan unsur komunis. Semua usul ‘penyelidik’ itu ditanggapi partai. Untuk selanjutnya, partai pimpinan Cokroaminoto itu bernama Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). ‘Penyelidik’ itu adalahAgus Salim.

    Orang tuanya membennya nama Masyudul Haq yang berarti pembela kebenaran. Ia dilahirkan di Kota Gadang, Bukit Tinggi, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884, sebagai anak tertua dan pasangan Sutan Salim Gelar Sutan Muhammad Salim dan Siti Zaenab. Sutan Salim adalah jaksa kepala (hoofdjaksa) dan juga menjadi anggota Mahkamah Agung. Karena kedudukan ayahnya yang tinggi, ia dapat bersekolah di Sekolah Menengah Belanda, HBS (Hogere Burger School). Ia dikenal sangat cerdas hingga tercatat menjadi lulusan terbaik di sekolahnya. Kecerdasannya termasuk luar biasa dalam penguasaan bahasa. Tidak hanya bahasa daerahnya, Minang, bahasa Indonesia dan juga bahasa Belanda, Agus Salim juga menguasai 6 bahasa asing Iainnya: bahasa Perancis, lnggris, Jerman, Jepang, Tunki dan Arab dengan baik. Kehebatannya dalam berbahasa ini kelak akan sangat mendukungnya dalam kancah politik nasional Indonesia.

    Semula Agus Salim bercita-cita menjadi dokter. Sayang, keluarganya Iidak mempunyai biaya yang cukup untuk mendukung cita-citanya. Sesungguhnya ia ‘mendapat’ limpahan bea siswa dan RadenAjeng Kartini seteIah Raden Ajeng Kartini terpaksa ‘menolak’ bea siswa yang didapatkannya karena harus menikah. Bangsawan wanita’ Jawa itu menyarankan kepada pemerintah Belanda untuk memberikan beasiswa yang diterimanya untuk Agus Salim. Entah kenapa Agus Salim tidak memanfaatkan kesempatan emas itu untuk memenuhi cta-citanya. Ia malah memilih Iangsung bekerja pada pemerintah Belanda. Mengingat bakatnya yang luar biasa dalam bidang bahasa, pemerintah Belanda menginmkannya ke Jeddah untuk menjadi penerjemah pada kantor konsulat Belanda. Ia sangat gembira menerima tugas itu karena di Kerajaan Arab Saudi itu ia bisa menimba ilmu agama. Di negen kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut Agus Salim berguru pada Imam Masjidil Haram, Syekh Ahmad Khatib, yang tidak lain adalah pamannya sendin. Tercatat selama 5 tahun, 1906 —1911, Salim berada di Jeddah.

    Sepulang dan negeri Arab Agus Salim tidak meneruskan kariemya sebagai pegawai pemenntah Kolonial Belanda. Kepeduliannya pada anak-anak bangsa yang tidak bisa mengenyam pendidikan menyebabkan ia lalu mendirikan sekolah HIS (Hollandsche inlandsche School). Selain itu Agus Salim juga menjadi pemimpin redaksi harlan Neraca. Agus Salim memasuki gelanggang politik dan bergabung dengan Sarekat Islam (SI) pimpinan Oemar Said Cokroaminoto. Ia tercatat sebagai salah satu pengurus pusat partai dan menjadi Ketua Partai setelah Cokroaminoto wafat.

    Agus Salim bersama Semaun mendirikan Persatuan Pergerakan Kaum Buruh padatahun 1919. Mereka gigih menuntut kepada pemerintah Belanda agar membentuk Dewan Perwakilan Rakyat yang sebenarnya, yang dipilih oleh rakyat serta berjuang untuk rakyat. Ketika terjadi pemogokan buruh yang menuntut perbaikan nasib buruh di Surabaya, Cirebon dan Semarang, Agus Salim berperan besar. Dia pengorganisir pemogokan tersebut.

    Di tubuh SI terjadi ‘kemelut’ setelah Semaun yang beraliran komunis menarik din dan keanggotaan SI. Orang-orang yang sepaham dengan Semaun turut menyatakan din keluar dan selanjutnya mereka mendinikan partai barn dengan paham komunis yang menjadi pijakannya.

    Agus Salim merasa penlu membersihkan partai SI dan ‘paham’ komunis yang disinyalir masih ada di dalam partainya. Disiplin ketat diterapkan pada partai pimpinan Oemar Said Cokroaminoto tersebut dengan ‘mengusir’ keluar anggota SI yang berhaluan komunis dan pantai.

    Kiprah Agus Salim dalam pentas politik terus berlanjut. Ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad) selama tiga tahun, 1921 — 1924. Sebagai anggota Dewan, Agus Salim terkenal vokal dan amat berani menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia. Berulang-ulang Ia secara terang-terangan menyerang kebijakan pemenntah Kolonial Belanda yang dinilainya tidak memperhatikan sungguh-sungguh kondisi rakyat Indonesia. Selain melalui suaranya di Volksraad, Agus Salimjuga ‘menyerang’ pemerintah Kolonial Belanda melalui tulisan-tulisannya. Pemerintah Kolonial Belanda dibuat benar-benar jengkel alas ulah lelaki yang semasa mudanya dikenal ‘pemberani’ mi. Namun anehnya, pemerintah Kolonial Belanda tidak pernah sekalipun menangkap atau memenjarakan tokoh berbadan kecil mi seperti yang biasa diterapkannya pada tokoh-tokoh politik Iainnya yang berani bersuara nyaring! Kenyataan mi senng dimanfaatkan orang-orang yang tidak senang pada kiprahnya dengan menyebut Agus SaUm sebagai antek Belanda! Sungguh, itu hanya kabar amat murahan karena jiwa dan raga Agus Salim benar-benar Indonesia tulen!

    Kehebatan Agus Salim dalam menguasai berbagai bahasa asing sangat dibutuhkan Indonesia seteIah Soekarno dan Hatta mengumumkan prokiamasi Indonesia l7Agustus 1945. Ia berjuang di luar negen untuk memperkenalkan bangsanya yang baru saja mencapal kemerdekaan. Terbukalah kesadaran negara-negara yang dikunjungiAgus Salim, bahwa ada sebuah negara besar yang baru saja menyatakan kemerdekaannya, Indonesia. Prestasi gemilang Agus Salim terjadi di Mesir pada tahun 1947. Berkat diplomasinya yang hebat, negeri di ujung utara benua Afrika itu kemudian menjalin hubungan persahabatan dengan Indonesia.

    Prestasi politik di dalam negen juga terus ditorehkan Agus Salim. Sebelum menunjukkan kelihaiannya sebagai diplomator ulung di luar negeri, Agus Salim di awal kemerdekaan merupakan salah seorang dan Panitia Sembilan yang berhasil merumuskan asas dan tujuan pembentukan negara Indonesia yang kemudian oleh Mr. Mohammad Yamin hasil rumusan tersebut ditandatangani dan disebut Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Panitia Perancang Undang-Undang Dasar kemudian mengambil Piagam Jakarta untuk digunakan sebagai Pembukaan (preambule) Undang-Undang Dasar dengan membentuk Panitia Kecil dengan diketual oleh Dr. Mr. Soepomo untuk merumuskannya.

    Agus Salimjuga tercatat beberapa kali menjadi Menteri. Dalam Kabinet Syahrir I dan II, Agus Salim ditunjuk menjadi Menten Muda Luar Negeri. Ia juga ditunjuk sebagai Menteri Luar Negen semasa Kabinet Hatta.

    Belanda yang melancarkan agresi Militer II ke Indonesia menangkap beberapa tokoh nasional di Ibukota Yogyakarta. Agus Salim turut pula mereka tangkap. Bersama Presiden Soekarno, Agus Salim diasingkan ke Prapat, Sumatera Utara sebelum akhimya dipindahkan ke Bangka.

    Perjuangan luar biasa Agus Salim di dalam maupun di luar negeri terhenti untuk selama-Iamanya pada tanggal 4 November 1954. Ia wafat dalam usia 70 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Tujuh tahun setelah kematiannya, 1961, Pemerintah Indonesia mengangkat Agus Salim sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

    Sumber: Komandoko, Gamal. (2006). Kisah 124 pahlawan dan Pejuang Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Widyatama
    Last edited by Rikizy; 06-01-2015 at 01:27 PM.

  2. #2

Similar Threads

  1. H. Agus Salim, Guru Bagi Anak2nya
    By opie in forum Pahlawan Nasional
    Replies: 2
    Last Post: 07-10-2017, 09:59 AM
  2. Bahasa Melajoe Menjadi Bahasa Indonesia
    By opie in forum Kolonialisasi
    Replies: 0
    Last Post: 01-19-2015, 09:48 AM
  3. Bahasa Indonesia, Kenali Bahasa Persatuan Anda
    By Herodotus in forum Tentang Indonesia
    Replies: 0
    Last Post: 05-03-2014, 07:08 AM
  4. Sejarah Sang Saka Merah putih
    By Herodotus in forum Tentang Indonesia
    Replies: 0
    Last Post: 05-01-2014, 04:29 PM

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •