Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 2 of 2
  1. #1

    Peristiwa di Seputar Kongres Pemuda Pertama Tahun 1945

    Cerita ini dikisahkan oleh Aboe Bakar Loebis di dalam bukunya “Kilas Balik Revolusi, Kenangan Pelaku dan Saksi”.

    Akhir bulan Oktober 1945, Aboe Bakar Loebis (ABL) ditugaskan oleh Menteri Penerangan Amir Syarifuddin ke Yogya untuk menemui panitia pelaksana Kongres Pemuda yang pertama, untuk menanyakan apakah ada kiranya hal-hal yang dapat dibantu oleh pemerintah dalam penyelenggaraan kongres tersebut.

    Amir Syarifuddin yang sudah lebih berpengalaman dalam penyelenggaraan rapat atau kongres, menyadari bahwa dalam suatu muktamar pemuda yang begitu besar dan pertama kali setelah Indonesia merdeka, harus dibuat perencanaan yang rapi dan teliti agar muktamar tersebut berjalan lancar.

    Saat ABL ke Yogya dan menemui Ketua Panitia Pelaksana, Jalaludin Nasution dan menyampaikan pesan Menteri Penerangan, dengan angkuh ia menjawab:

    “Kita pemuda tidak perlu menerima bantuan apa pun dari yang tua-tua. Kita sanggup menyelesaikan semuanya sendiri!”

    Jawaban ceroboh dari Ketua Panitia Pelaksana itu kemudian disampaikan ABL ke Menteri Penerangan setelah ia kembali ke Jakarta, namun tidak diketahui bagaimana reaksi Amir Syarifuddin atas jawaban sombong Jalaludin Nasution.

    Pada tanggal 8 Nopember 1945, ABL diutus menjadi anggota delegasi Pemuda Jakarta berangkat ke Yogya untuk menghadiri Kongres yang dijadwalkan dimulai tanggal 10-11 Nopember 1945.

    Setibanya di Yogya, terasa sekali suasana meriah. Jalan Malioboro penuh dengan mobil-mobil pemuda Surabaya dan menjadi ajang “nampang” mondar mandir sebagai orang yang sudah menang perang. Dapat dimaklumi, jika pemuda2 “arek” Surabaya bertepuk dada karena dalam perlawanan terhadap tentara Inggris yang baru terjadi di Surabaya, pasukan Inggris kewalahan hingga meminta bantuan Presiden Soekarno untuk menghentikan pertempuran pada tanggal 1 Nopember 1945. Sementara ABL dan umumnya perwakilan Pemuda Jakarta merasa tidak bisa membanggakan diri karena tidak mengalami kejadian yang serupa. Pemerintah dan pemuda di Jakarta tidak sanggup menghalangi pendaratan pasukan Sekutu, karena beberapa alasan taktis dan strategis. Yang terjadi di Jakarta saat itu malah Pemerintah di Jakarta mengeluarkan instruksi agar kekuatan bersenjata di Jakarta menyingkir keluar dari Jakarta karena akan dijadikan kota perundingan.

    Pada tanggal 10 Nopember 1945, Kongres Pemuda yang pertama dimulai yang bertempat di Balai Mataram, dengan dihadiri Presiden, Wakil Presiden, Menteri Penerangan dan beberapa menteri lainnya.

    Dalam pelaksanaannya kemudian, ternyata Panita tidak menyiapkan aturan dan tata tertib persidangan. Akibatnya fatal, karena banyak delegasi dengan banyak kemauan menyebabkan kemacetan jalannya kongres. Di tengah kekacauan itu Panitia tidak bisa mencari jalan keluar dan akhirnya meminta kepada pemimpin yang duduk di atas panggung (perwakilan pemerintah) untuk memberi petunjuk dan arahan mengenai jalannya kongres.

    ABL yang pernah diutus oleh Menteri Penerangan beberapa hari sebelum kongres berlangsung kontan naik pitam. Beruntung di tengah suasana kacau itu kemudian datang berita dari Surabaya bahwa Panglima Tentara Inggris yang baru Mayor Jenderal Hawthorn mengeluarkan ultimatum kepada tentara dan pemuda Surabaya untuk menyerahkan senjata. Ultimatum ini segera ditolak oleh Gubernur Jawa Timur. Para pemuda Surabaya yang hadir di Kongres kemudian segera bangkit dari tempat duduknya dan secara dramatis Ketua Delegasi Pemuda Surabaya, Krissubanu, mengumumkan menolak ultimatum Inggris. Delegasi kemudian meninggalkan ruangan untuk kembali ke Surabaya dengan diiringi pekikan “Merdeka!”

    Kongres itu sendiri kemudian berhasil membentuk Badan Kongres Pemuda yang merupakan gabungan atau federasi organisasi-organisai pemuda yang bermunculan di seluruh tanah air setelah Proklamasi Kemerdekaan. Badan Kongres ini pernah dipimpin oleh Soepeno, Wikana dan terakhir oleh Supardo.

    Menurut Tabrani, salah seorang saksi hidup Kongres Pemuda yang bersejarah tersebut, laporan kongres yang berjudul "Verslag van Het Eerste Indonesisch Jeugdcongress (Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama) yang diterbitkan oleh Panitia Kongres telah dimusnahkan Belanda. Tapi beruntung, sebelumnya ia pernah mengirimkan salinan laporan itu ke Museum Pusat dan sejumlah media massa. Pada 1973, Tabrani menemukan dokumen kongres itu di Museum Pusat, kini bernama Museum Nasional. “Kondisinya sudah memprihatinkan

    Sementara itu tercatat, Jalaludin Nasution, Ketua Pelaksana Kongres Pemuda, yang angkuh menolak tawaran bantuan dari Pemerintah, di kemudian hari menjadi salah seorang gembong PKI di Sumatera Utara.


    Sumber:

    1. "Kilas Balik Revolusi, Kenangan, Pelaku dan Saksi", Aboe Bakar Loebis

    2. 302 Found

  2. #2

Similar Threads

  1. Kongres Perempuan Pertama - 22 Desember 1928
    By opie in forum Kolonialisasi
    Replies: 3
    Last Post: 05-17-2017, 01:58 PM
  2. Pertempuran Iwo Jima 1945
    By opie in forum Sejarah Dunia
    Replies: 4
    Last Post: 01-09-2017, 04:36 PM
  3. Replies: 1
    Last Post: 10-01-2015, 06:38 AM
  4. Kongres Perempuan Pertama - 22 Desember 1928
    By opie in forum Kolonialisasi
    Replies: 0
    Last Post: 01-19-2015, 10:30 AM
  5. Pertempuran Surabaya ( 10 November 1945 )
    By Wallet Kecil in forum Orde Lama
    Replies: 1
    Last Post: 06-04-2014, 07:59 PM

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •