Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 2 of 2
  1. #1

    Rangkaian Peristiwa Heroik di Surabaya (2)

    Bagian (2): Penyerangan ke Markas Tentara Jepang di Surabaya


    Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya pada 22 Agustus 1945 membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Sehari kemudian, dalam pidatonya melalui radio, Presiden Soekarno menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, terutama bekas tentara Peta, Heiho, dsb, agar segera masuk menjadi anggota BKR sebelum terbentuknya tentara kebangsaan Indonesia.

    Setelah terbentuk pemerintahan sipil dengan Bapak Soedirman sebagai Residen dan Bapak Radjamin sebagai Walikota, terbentuk pula BKR yang diketuai oleh eks Cudanco Jonosewojo (BKR Karesidenan) dan eks Cudanco Soengkono (BKR Kota Surabaya).

    Permasalahan utama berikutnya untuk menjaga keamanan adalah persenjataan. Dalam hal ini, upaya yang dilakukan oleh Cudanco Jonosewojo untuk mendapatkan senjata dari pihak Jepang patut diapresiasi. Di tempat2 lain umumnya senjata direbut dengan cara kekerasan atau didahului dengan negosiasi tapi karena gagal baru ditempuh cara kekearasan, tapi Cudanco Jonosewojo berhasil melakukan negosiasi dengan Jenderal Iwabe, penguasa militer Jepang di Jawa Timur saat itu. Hal ini diceritakan dalam buku “Surabaya Bergolak”, senjata2 itu diperoleh dari Markas Tobu Jawa Boetai. Namun menurut buku “Pertempuran Surabaya”, negosiasi di Markas Tobu Jawa Boetai diwakili oleh drg. Moestopo. Kesepakatan serah terma senjata kemudian ditandatangani antara Jenderal Iwabe dengan M. Yasin, Moestopo, Abdul Wahab & beberapa orang lagi. Gedung ini kemudian dijadikan Markas BKR dan Kementerian Pertahanan Surabaya.

    Tanggal 12 September 1945 juga terjadi perebutan senjata di Kitahama Butai dimana 23 tank, 1 panser dan beberapa senjata berap berhasil diambil alih di bawah coordinator Isa Edris dan Suprapto.

    Di buku “Bung Tomo dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru” menceritakan penyerahan senjata terjadi di Tangsi Don Bosco pada tanggal 16 September 1945 dan selama proses negosiasi tersebut, perwakilan Republik Indonesia dipimpin oleh Kepala Polisi Istimewa Mohammad Jasin, sedangkan Komandan Tangsi adalah Mayor Hazimoto.

    Penyerahan senjata juga terjadi di Kohara Butai di Gunungsari di bawah pimpinan Kolonel Kohara. Prosesnya tidak rumit tapi sang Kolonel meminta pedang pribadinya agar tetap menjadi miliknya.

    Penyerahan senjata ini kemudian dijadikan rujukan di tempat2 lain di wilayah Surabaya, seperti di Pusat Organsisasi Angkatan Bermotor Bala Tentara Dai Nippon Jawa Timur, Rumkit Angkatan Perang Dai Nippon, dll.

    Saat pemuda pejuang sedang mengambil alih kekuasaan dari Jepang, Kolonel Huiyer dari AL Belanda mendarat di Surabaya pada 23 September 1945 atas perintah Laksamana Patterson untuk menginspeksi fasilitas2 militer yang akan diserahkan Jepang kepada Sekutu. Beberapa hari kemudian ia balik ke Jakarta dan datang lagi ke Surabaya pada 29 September 1945. Di sini ia terkejut karena sikon sudah banyak berubah dan Jepang dianggap lalai karena tidak bisa mengendalikan Surabaya. Huiyer kemudian ditahan oleh pejuang2 Indonesia di penjara Kalisosok saat hendak balik ke Jakarta.

    Setelah keberhasilan penyerahan senjata tersebut, kini anggota BKR yang masih merasa dendam terhadap Kempetai, mengalihkan rencana berikutnya ke Markas Kempetai yang dianggap sebagai lambang kekejaman militer Jepang. Bagi kebanyakan rakyat di Surabaya sudah mahfum bahwa Markas Kempetai menjadi tempat penyiksaan bagi pemuda2 Surabaya yang ditangkap oleh pihak militer Jepang. Wajar jika gedung itu disebut sebagai “gedung setan” karena seringkali terdengar rintihan2 suara orang yang sedang disiksa dan suara anjing menggonggong.

    Pada dini hari, 1 Oktober 1945, Markas Kempetai sudah dikepung oleh BKR, Polisi Istimewa dan pemuda2 lainnya. Alat komunikasi yang menghubungkan Markas Kempetai diputus dari luar dan pagar2 berduri berhasil dirusak.

    Pukul 12.00 mereka berhasil menerobos halaman markas Kempetai, tapi disambut tembakan dari lubang perlindungan yang dibuat Kempetai. Beberapa pemuda yang sudah mendekati ambang pintu gedung roboh. Seorang perwira BKR, Saudara Wahab, tertembak kakinya sehingga harus digotong mencari perlindungan. Para pejuang2 Republik pun membalas tembakan tersebut, baik dengan senapan atau juga dengan batu2 yang dilempar dari luar bangunan. Bung Tomo menceritakan Pasukan PMK (Brandweer Kota) pun ikut menyerang dengan cara menyemprotkan air ke gedung Kempetai.

    Ada kejadian menyedihkan di belakang gedung Markas Kempetai yang diceritakan oleh Bung Tomo akibat keterbatasan pengetahuan rakyat jaman itu.

    Ketika datang 1 truk berisi Pasukan Istimewa, salah seorang dari mereka yang memang berasal dari wilayah Timor berusaha menenangkan pemuda2 pejuang dengan meyakinkan bahwa sedang dilakukan perundingan antara perwakilan pemerintah dengan Kempetai. Tapi karena pemuda2 menganggap penampilan anggota polisi istimewa itu seperti orang Ambon & sudah kadung menganggap orang Ambon pro kepada Belanda maka tak ayal lagi anggota polisi itu menjadi sasaran empuk kemarahan rakyat dan gugur.

    Di tengah2 pertempuran itu, Komandan Polisi Istimewa, M. Yasin, menerobos kawat berduri dan langsung menuju ruang Kempeitaico (Kepala Polisi Militer Jepang). Meski ditodong tentara Jepang, ia memberanikan diri menemui Takahara untuk dipertemukan dengan Kempeitaico. Entah apa yang disampaikan oleh M. Yasin, tapi kemudian Kempeitaico mau mengibarkan sapu tangan berwarna merah putih milik M. Yasin ke arah luar markas sehingga rakyat bersorak2. Tak lama kemudian Takahara menurunkan bendera Jepang dan pertempuran dihentikan pada pukul 16.00.

    Dalam pertempuran ini tercatat korban yang gugur 40 orang (25 rakyat Indonesia dan 15 tentara Jepang), luka2 81 orang (60 Indonesia, 14 Jepang, 2 Cina dan 5 Belanda). Salah seorang yang terluka adalah Abdul Wahab, Ketua BKR Karesidenan Surabaya. Sedangkan menurut sumber Jepang, korban di pihak mereka pada 1 Oktober 1945 adalah 22 tewas, 25 luka2, 6 ditawan dan banyak yang hilang.

    Perjuangan merebut kekuasaan dari Jepang masih berlanjut keesokan harinya, 2 Oktober 1945, dengan mengalihkan sasaran ke Markas Besar Armada Kaigun di Embong Wungu. Pukul 10.00 markas sudah dikepung dan seperti biasa instalasi komunikasi dirusak dari luar. Lalu pimpinan AL Jepang, Laksamana Shibata menemui perwakilan pejuang yang mengepung markas dan menyampaikan bahwa senjata sudah ada di bawah pengawasan Polisi Istimewa dan akan diserahkan kepada Residen Sudirman.

    Sasaran kemudian dialihkan ke Gubeng dengan mengepung markas Kaigun. Sore harinya, setelah terjadi tembak menembak, Komandan Markas Kaigun bernegosiasi dengan salah satu anggota Polisi Istimewa yang ikut mengepung. Komandan tersebut bilang akan menyerahkan senjata hanya kepada seseorang yang berkuasa di dalam kota. Anggota Polisi itu kemudian melapor ke Markas BKR Kota di Pregolan. Ketua BKR, Soengkono yang menerima laporan tersebut lalu pergi ke Markas Kaigun Gubeng dan menemui Komandan Markas Kaigun. Tapi Komandan bilang harus mendapat ijin dari atasannya, Laksamana Shibata. Lalu Soengkono dan Wongsokusumo menemui Laksamana Shibata di Ketabang. Disampaikan bahwa pemuda2 pejuang mengepung Markas Kaigun bukan karena membenci Jepang tapi memerlukan senjata untuk menghadapi Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia.

    Akhirnya kesepakatan tercapai dengan menyerahkan senjata ke Polisi Istimewa dan tembak menembak pun dihentikan.

    Pengambilalihan tidak hanya terjadi pada obyek militer tetapi juga Kantor Berita Domei di Tunjungan 100 yang diubah menjadi Kantor Berita Indonesia. Tanggal 14 September 1945 koran “Soeara Asia” berhenti terbit dan sejak tanggal 1 Oktober harian itu berganti nama menjadi “Soara Rakjat”.

    Untuk mencegah ekses perebutan kekuasaan yang kurang baik, Residen Surabaya selaku pimpinan BKR Karesidenan mengumumkan bahwa Jepang sudah menyerah. Kepada warga Surabaya diimbau agar tenang dan mempercayakan keamanan kepada BKR. Selanjutnya dibentuk panitia pengambilalihan kantor2 pemerintahan, jawatan2 dan perusahaan2 dari tangan Jepang.

    Sementara pemerintah sipil mulai menegakkan kewibawaannya, R.M.T.A. Soeryo secara resmi mulai menduduki posisi sebagai Gubernur sejak 12 Oktober 1945 dengan Wakilnya adalah Sudirman.

    Terlepas dari karakter atau sifat atau pembawaan, apakah keberhasilan2 merebut senjata dari Jepang ini yang membuat para pejuang2 di Surabaya percaya diri dalam menghadapi kedatangan tentara Inggris & mengabaikan ultimatum Mayjen Mansergh pasca tewasnya Brigadier Mallaby?


    Sumber:

    1. “Bung Tomo, dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru”, Frans M. Parera

    2. “Surabaya Bergolak”, R.S. Achmad

    3. “Pertempuran Surabaya”, Depdikbud

  2. #2
    peristiwa sejarah inilah yang tidak terlupakan oleh arek suroboyo

Similar Threads

  1. Rangkaian Peristiwa Heroik di Surabaya (4)
    By opie in forum Kolonialisasi
    Replies: 2
    Last Post: 02-26-2018, 01:41 PM
  2. Rangkaian Peristiwa Heroik di Surabaya (3)
    By opie in forum Kolonialisasi
    Replies: 1
    Last Post: 02-02-2018, 11:12 AM
  3. Pertempuran Surabaya ( 10 November 1945 )
    By Wallet Kecil in forum Orde Lama
    Replies: 1
    Last Post: 06-04-2014, 07:59 PM

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •