DIPLOMASI BERAS ALA SUTAN SJAHRIR - "THE ATOMIC BOMB OF ASIA"


Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia berusaha keras untuk mendapatkan pengakuan dunia internasional. PM Sjarir yang memiliki pandangan jauh ke depan menempuh jalan yang dikenal dengan “Diplomasi Beras”. Cara ini dipandang oleh Hamid Algadi dalam memoarnya “Suka Duka Masa Revolusi” sebagai perjuangan diplomasi yang jitu dan dapat mematahkan propaganda Belanda yang selalu menggembar gemborkan bahwa orang2 di Republik sebagai orang yang sering membuat keresahan dan kekacauan.

Di buku memoir P.R.S. Mani, “Jejak Revolusi 1945 Sebuah Kesaksian Sejarah”, hubungan khusus ini ditulis di dalam Bab VIII “India dan Indonesia” dengan sub-judul “Perjanjian Beras India-Indonesia”.

Mani mengakui kelihaian diplomasi Sjahrir untuk memperluas dukungan pengakuan de facto atas negara Republik Indonesia yang masih berusia muda. Diplomasi beras ini mulai menemukan jalannya ketika Mani bertemu dengan Sjahrir yang tertarik dengan perkembangan2 di India, sementara Mani menjelaskan kondisi di India di mana PD 2 telah mengacaukan pasokan beras dari Birma ke India, bagaimana beras yang sedikit dialihakan untuk konsumsi tentara, dan menciptakan kelaparan di Bengal. Menurut Sjahrir, di antara beberapa masalah yang dihadapi oleh RI, pangan bukan merupakan masalah utama karena meskipun sedang diduduki Jepang.

Sejenak wajah Sjahrir menujukkan ekspresi dalam, ia memejamkan matanya & berdiam diri sesaat. Kemudian sambil menyatakan rasa simpatinya rakyat India, Sjahrir menawarkan bantuan 500.000 ton beras tapi dengan syarat India yang mengurus pengapalannya. Sjahrir menambahkan bahwa Pula Jawa baru saja menikmati hasil panen yang luar biasa melimpah dan cukup untuk berbagi dengan India, namun Indonesia kekurangan tekstil dengan harapan India dapat membantunya. Bagi Sjahrir yang pandangannya jauh ke depan, kedatangan kapal-kapal asing yang digunakan untuk mengangkut beras merupakan pukulan telak bagi blokade ekonomi Belanda. Hal ini diharapkan dapat berdampak pada pengakuan internasional kepada RI.

Di India, kisah tawaran Sjahrir ini dimuat di halaman utama harian Free Press Journal of Bombay, tempat Mani bekerja, dengan berita: “Sikap Kehendak Baik Indonesia Kepada India, PM Sjahrir Menawarkan 500.000 ton beras”, yang kemudian dikutip secara luas oleh pers luar negeri. Mani sendiri berkesempatan menyaksikan panen padi di wilayah Jawa saat mengunjungi Indonesia.

Bagaimana Pelaksanaan Pengiriman Beras ke India?

Hal ini bisa dibaca dari memoar Moeffreni Moe’min, “Jakarta – Karawang – Bekasi Dalam Gejolak Revolusi”, di Bab 4, “Mengirim Beras ke India”. Moeffreni Moe’min pada saat dilaksanannya pengiriman bantuan beras ke India adalah Komandan Resimen V. Bahkan India selain mengirimkan kapal juga mengirimkan truk-truk besar yang dikenal dengan sebutan truk “India Rice” guna mengumpulkan beras dari pabrik2 beras di Karawang. Truk2 ini kemudian dihibahkan kepada Resimen V setelah proses pengiriman selesai.

Upaya ini awalnya tidak direspon berlebihan oleh Belanda karena meragukan kemampuan Indonesia yang dapat menyediakan beras sebanyak itu. Untuk menjawab ini, PM Sjahrir mengadakan jumpa pers di depan Balai Agung dan menegaskan kesungguhan pemerintah RI untuk membantu India yang sedang mengalami krisis beras. Sjahrir ketika itu menjelaskan bahwa estimasi panen beras paling rendah 5 juta ton & paling tinggi 7 juta ton, sementara pada saat pendudukan Jepang konsumsi beras tidak lebih dari 3 juta ton.

Atas kesungguhan rencana RI tersebut, pada 15 April 1946 panglima Sekutu untuk Asia Selatan dan Timur, Lord Louis Mountbatten tiba di Kemayoran untuk bertemu Sjahrir. Dalam pertemuan yang juga membahas masalah beras itu, pimpinan Sekutu memberikan dukungannya.

Hal ini jelas2 menjengkelkan dan membuat panas telinga Belanda. Mereka mulai mengintimidasi dengan melakukan patroli2 kapal laut di Banyuwangi dan Cirebon. Sementara di sebelah Timur Jakarta, pasukan militer Belanda mulai melakukan penetrasi untuk menggagalkan upaya pemerintah RI. Namun Moeffreni Moe’min sudah mencium gelagat ini berusaha mengamankan wilayahnya agar pelaksanaan pengiriman beras berjalan lancar.

Rencana “Diplomasi Beras” ini mendapatkan dukungan luas dari daerah2 yang sadar tujuan strategisnya. Misalnya pada 15 Juni 1946 Kabupaten Tegal sudah berhasil mengumpulkan 3/4 dari jumlah 17 ribu ton yang ditetapkan. Demikian juga pemerintah Karesidenan Malang sudah siap mengirim beras sesuai jumlah yang ditetapkan. Kabupaten Pemalang malah membuat “Panitia Beras India”. Bahkan Laskar Rakyat Djakarta Raya yang berkedudukan di Karawang mengirimkan kawat kepada Menteri Penerangan yang menyatakan dukungannya dengan mengerahkan bantuan tenaga dan mengamankan pelaksanaannya. Setelah mendapatkan dukungan dari banyak pihak, Pemerintah RI akhirnya membuat Panitia khusus yang diketuai oleh Menteri Pertanian saat itu, Ir. Soebiarto.

Pada 26 Juli 1946, Kantor Penghubung Tentara di Jakarta menginformasikan bahwa kapal berbendera Inggris yang dikirim oleh Pemerintah India telah tiba di Jakarta dengan membawa karung goni & akan melanjutkan perjalanan ke Cirebon, Probolinggo & Banyuwangi.

Pada 8 Agustus 1946 akhirnya kapal milik British India Navigation Company tiba di pelabuhan Probolinggo untuk memuat beras bantuan & selesai pemuatan pada 14 Agustus 1946. Kapal berlayar kembali ke India pada 19Agustus 1946 dengan dilepas oleh pembesar2 dari dua negara, termasuk wartawan film dari British Movietone. Setelah pengiriman pertama ini diikuti dengan pengiriman berikutnya dari wilayah Banyuwangi dan Cirebon. Berdasarkan catatan pengiriman beras ini berlangsung selama 2 bulan.

Jawaharlal Nehru yang terharu atas uluran tangan Sjahrir & bersimpati dengan perjuangan Indonesia lalu mengadakan Asian Relations Conference di New Delhi dengan mengundang Sjahrir. Pihak Belanda yang mengetahui hal ini membujuk Sjahrir untuk singgah ke Belanda dengan menumpang pesawat KLM tapi ditolak oleh Sjahrir & memilih menumpang pesawat Biju Patnaik, usahawan dari Bengal yang juga teman akrab Nehru.

Demikianlah strategi diplomasi yang jitu dari Sjahrir yang dijuluki sebagai “The Atomic Bomb from Asia” dalam perjalanannya terbukti menuai dukungan internasional atas eksistensi Negara RI.


Sumber:

1. “Suka Duka Masa Revolusi”, Hamid Al Gadri

2. “Jejak Revolusi 1945 Sebuah Kesaksian Sejarah”, P.R.S. Mani

3. “Jakarta – Karawang – Bekasi Dalam Gejolak Revolusi”, Moeffreni Moe'min