Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 3 of 3
  1. #1

    Umar Wirahadikusumah - Wapres Yang Sering Blusukan

    Umar Wirahadikusumah lahir pada 10 Oktober 1924 di Situraja, Sumedang.

    Ayah beliau, Raden Rangga Wirahadikusumah, adalah seorang Wedana Limbangan, (Garut) pada tahun 1920an, masih keturunan Raden Dmg (Demang?) Wirahadikusumah (Patih Bandung). Ibunya Nyi Raden Neni Djuhaeni meninggal dunia saat Umar masih sangat belia.

    Umar anak ke 6 dari 17 bersaudara, saat biografinya ditulis tahun 1983, 8 di antaranya masih hidup.

    Umar sekolah ELS di Cicalengka & MULO di Tasik, lalu bekerja sebagai asisten pegawai di perkebunan karet Jatinangor.

    Awal mula keterlibatannya dalam dunia militer saat mengikuti latihan kemiliteran di Seinendoyo Tangerang lalu mengikuti pendidikan perwira Peta di Bogor, kemudian diterima sebagai shudanco di Tasik, lalu dipindahkan ke Pangandaran & berakhir saat proklamasi menjadi anggota TKR.

    Di TKR, Umar diangkat menjadi Direktur Latihan bagi Komandan2 di Kesatuan Divisi III/Siliwangi yang berkedudukan di Garut. Lalu diangkat menjadi Danyon I Resimen V Divisi III/Siliwangi merangkap sebagai Komandan Gerilya III di Cirebon saat Clash 1.

    Umar terlibat dalam aksi militer menumpas PKI Madiun 1948 sebagai Komandan Batalyon Umar.

    Umar juga terlibat dalam aksi meredam gerakan PRRI pada 1958 di Sumatera.

    Tanggal 31 Januari 1959 Umar diangkat menjadi Komandan KMKB (Komando Militer Kota Besar) Jakarta Raya & menjabat s/d Desember 1965.

    Pada 2 Desember 1965 beliau diangkat menjadi Pangkostrad menggantikan Letjen Soeharto s/d Desember 1969.

    Pada 5 Desember 1969 Umar mencapai puncak karir militernya saat diangkat menjadi KSAD (dulu disingkat KASAD).

    Pada 11 Maret 1983 Umar diangkat menjadi Wapres mendampingi Presiden Soeharto s/d 1988.

    Yang menariknya, saat pelantikan beliau sebagai wapres pada 11 Maret 1983, aliran listrik di kampungnya Kecamatan Situraja tiba2 mati total sehingga 2 perasaan hinggap di warga kampung halamannya sang wapres, bangga tapi kecewa.

    Umar termasuk pejabat yang di masa dinasnya sering mengagetkan anak buahnya karena sering 'blusukan' (bahasa kerennya: sidak) bahkan diceritakan pernah diam2 menumpang bis umum meski sudah menjabat sebagai RI 2.

    Umar meninggal pada 21 Maret 2003 dan dimakamkan di TMP Kalibata.

    (Catatan: ada juga laman yang menulis meninggalnya pada 21 Pebruari 2003)

    Yang disayangkan sepeninggalnya Umar Wirahadikusumah adalah misteri2 di seputar peristiwa G30S karena jabatannya saat itu yang diharapkan dapat dibuka, namun rupanya beliau lebih memilih diam.

    Umar Wirahadikusumah memiliki seorang keponakan yang juga berkarir di militer mengikuti pamannya, sempat menjadi "the rising star" sebagai Pangkostrad di era Presiden Gus Dur (alm) dengan pangkat Letnan Jenderal, beliau adalah Agus Wirahadikusumah. Diduga karena kekritisannya & vokal terhadap institusi TNI, karir beliau mentok. Setahun setelah diangkat menjadi Pangkostrad, Agus meninggal dunia karena "serangan jantung". Oleh banyak kalangan, kematian keponakan Umar Wirahadikusumah ini tetap dianggap misterius karena Agus sempat membongkar kasus korupsi di Yayasan Dharma Putera Kostrad senilai Rp 189 milyar.

    Catatan: biografi beliau pertama (1983) tata kalimat & bahasanya masih kurang baik, jadi bacanya harus mikir 2x, jarak spasi antar paragraf juga tidak konsisten.

    Sumber:

    1. "Umar Wirahadikusumah, dari Peristiwa ke Peristiwa"

    2. http://tempo.co.id/harů/profil/prof-...dikusumah.html

  2. #2
    sekarang ada bapak presiden kita bpk jokowi yang suka blusukan

  3. #3
    Quote Originally Posted by senyumin View Post
    sekarang ada bapak presiden kita bpk jokowi yang suka blusukan
    yang pasti dengan blusukan bisa lebih merakyat
    bisa menghilangkan kesenjangan antara pemerintah yang terkesan ekslusif dengan rakyat
    Membuang sejarah itu bagaikan membuang hasil-hasil penelitian berharga yang telah diteliti dimasa lalu, dan mencoba meneliti dari awal tanpa refrensi masa lalu
    www.sejarawan.com

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •