Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 3 of 3
  1. #1

    Relief Borobudur: Buku Kehidupan Manusia Jawa Kuno

    Anda pernah ke Candi Borobudur? Ternyata di candi terbesar di dunia ini tersimpan artefak kehidupan Jawa Kuno. Tersembunyi dalam relief dinding candi. Simak catatan tentang artefak itu.

    BOROBUDUR merupakan mahakarya seni rupa Buddha di Indonesia. Candi terbesar yang diakui UNESCO ini merupakan contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Indonesia. Relief candi menampilkan ajaran Buddha, dan kehidupan masyarakat Jawa Kuno abad ke 8 dan ke 9. Tersembunyi dalam 1460 relief yang ada di susunan dinding-dindingnya.

    Relief adalah sebuah seni pahat atau ukiran 3 (tiga) dimensi pada media batu. Biasanya terdapat pada candi, monumen atau prasasti. Ukiran atau pahatan relief berisi ajaran berharga, serta filosofi nenek moyang.

    Bangunan Borobudur diilhami gagasan dharma dari India, yaitu keberadaan stupa dan
    mandala. Pada hakikatnya Borobudur sendiri adalah sebuah stupa, yang bila dilihat dari atas akan membentuk pola sebuah mandala besar. Mandala adalah pola rumit yang tersusun atas bujursangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta.

    Arsitektur Borobudur dikombinasikan dengan unsur-unsur lokal, yaitu menggabungkan dengan struktur megalitik punden berundak atau piramida bertingkat yang ditemukan dari periode bangunan prasejarah Indonesia. Arsitek perancang Borobudur, menurut legenda bernama Gunadharma.

    Arsitektur Borobudur memiliki dasar berupa bujur sangkar berukuran 123 m (400 kaki) pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki 9 (sembilan teras). Sebanyak 6 (enam) teras terbawah berbentuk bujur sangkar, dan 3 (tiga) teras teratas berbentuk lingkaran. Tingkat tertinggi berupa stupa Buddha menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan penyucian kehidupan manusia.

    Dalam kosmologi Buddha ada 3 (tiga) tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha yaitu Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Relief hanya ditemukan di Kamadhatu dan Rupadhatu.

    Kamadhatu adalah bagian kaki Borobudur. Sekitar 160 relief ada di kaki yang tadinya tertimbun. Lorong kaya relief ada di tingkatan atasnya, Rupadhatu yaitu 4 (empat) undak teras yang membentuk lorong keliling Candi. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif tersedia di sana.

    Arupadhatu (tiga pelataran melingkar) dimulai dari lantai lima hingga tujuh. Dindingnya tidak ditemukan relief. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 buah stupa. Sedangkan tingkatan tertinggi (Arupa) terdapat stupa yang terbesar.


    Relief Borobudur

    Candi Borobudur dipahat rapi oleh seniman pahat zaman wangsa Syailendra yang dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pahatannya realistis, dengan objek yang memiliki kedalaman 3 dimensi dan tak berulang. Relief yang terpahat di dinding batuan menampilkan urutan cerita yang runut dan sarat makna. Relief menampilkan sequen-sequen kehidupan manusia di alam ini.

    Relief ini bisa merupakan ukiran pahat yang membentuk suatu seri cerita (serial) atau ajaran. Panel relief bisa juga merupakan bagian dari panel relief yang lain. Selain itu, meski bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Di Candi Borobudur, ada lebih dari 1400 panel relief yang khusus untuk menceritakan semua ajaran sang Buddha Gautama.

    Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Pahatannya dibuat dengan sangat teliti dan halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Buddha. Relief Borobudur ini dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung.

    Relief Borobudur menerapkan disiplin senirupa India. Berbagai sikap tubuh ditampilkan, memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia mulia (seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, atau bidadari) seringkali digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh yang luwes dan menyiratkan keanggunan.

    Relief Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia, baik dari tingkatan bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, dan juga aneka tumbuhan serta hewan. Selain itu juga menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional Nusantara serta peralatan. Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya.


    Kisah dalam Relief

    Secara garis besar, relief pada dinding Candi Borobudur terbagi 5 (lima) kisah utama yakni : Karmawibangga; Lalita wistara, Jataka dan Awadana; serta Gandawyuda.
    Kelimanya merupakan cerita tentang Buddha, ajaran kitab Sucinyanya, dan petunjuk bagi manusia yang sarat dengan filosofi tinggi.

    Salah satu relief Borobudur bercerita tentang kisah yang melegenda yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Seperti, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu. Serta relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).

    Relief Borobudur menginspirasi para peneliti untuk merekam suasana zaman Jawa kuno abad ke-8 dan ke-9. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi menginspirasi ahli ahli masa sekarang.

    Relief populer yang menggambarkan sebuah Kapal Borobudur mengispirasi para ahli pembuat kapal. Mereka akhirnya menciptakan ”kapal kayu bercadik khas Nusantara” hanya berdasarkan relief ini. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan bahari purbakala sudah sangat maju dan paham teknologi. Replika bahtera yang dibuat berdasarkan relief Borobudur tersimpan di Museum Samudra Raksa yang terletak di sebelah utara Candi Borobudur.


    Membaca Relief Candi Borobudur

    Relief-relief ini membentuk satu cerita tersendiri. Cara membacanya, mulailah berjalan di lorong se arah jarum jam. Cara ini disebut sebagai mapradaksina (bahasa Jawa kuno), istilah yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang berarti timur. Awal cerita akan dimulai dan berakhir di pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya (arah kiri dari pintu masuk candi).

    Borobudur memiliki tangga naik di empat penjuru mata angin. Sekilas agak sulit menentukan arah angin karena candi ini punya wajah pintu masuk yang sama. Dari pembacaan reliefnya, akhirnya diketahui bahwa Borobudur menghadap ke timur. Sebagai catatan, ada beberapa candi yang mengunakan teknik membaca sebaliknya, yaitu prasawiya atau berlawanan arah dengan arah jarum jam.

    Relief - relief pada dinding Candi Borobudur menggambarkan tentang ajaran hidup Sang Budha. Relief juga bercerita tentang filosofi dan kehidupan keseharian masyarakat zaman kuno abad ke-8 dan ke-9. Relief Borobudur, tak ubahnya sebuah kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Lewat reliefnya kita merujuk. -- Priyo SM
    Sejarawan muda - www.siputro.com
    Belom ada yang memiliki

  2. #2
    sangat indah sekali memang candi borobudur

  3. #3

Similar Threads

  1. Asal Usul Candi Borobudur Menurut Alqur’an Part 1
    By anie miracle in forum Asal Usul
    Replies: 2
    Last Post: 02-28-2018, 02:16 PM
  2. Legenda 7 manusia harimau
    By anie miracle in forum Asal Usul
    Replies: 3
    Last Post: 03-30-2017, 04:10 PM

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •