Indonesia adalah negara yang kaya akan rempah-rempah. Daya tarik Indonesia bagi perdagangan dunia terletak pada kekayaan rempah-rempah seperti lada, jahe, pala, cengkeh dan kayu manis. Hal ini telah mendorong negara-negara Eropa untuk datang ke Indonesia. Bangsa Barat yang pertama kali datang ke Indonesia adalah bangsa Portugis. Pada tahun 1498, Portugis sampai di Goa (India). Di tempat itu, bangsa Portugis mendirikan kantor dagang. Di India mereka mendengar kabar tentang Malaka yang pada waktu itu telah berkembang menjadi sebuah pelabuhan dagang yang ramai.

Pada tahun 1509, Portugis mengirimkan utusan ke Malaka. Utusan itu ternyata tidak diterima dengan baik oleh Sultan Mahmud Syah karena Portugis bersikap kurang baik. Oleh karena itu Portugis mengirimkan pasukan unntuk menggempur Malaka dan berhasil menguasai pada tahun 1511. Pada tahun 1511, d’Albuquerque mengirimkan beberapa kapal ke arah Timur Indonesia dan mendarat di Ternate sedang bertikai dengan kerajaan Tidore. Portugis disambut baik raja Ternate dengan maksud agar Portugis bersedia menjadi sekutunya dalam melawan Tidore. Di sisi lain, bangsa Spanyol berhasil menjalin hubungan dengan Tidore. Akibatnya, terjadi pertikaian antara spanyol dan portugis

Untuk menyelesaikan pertikaian antara Spanyol dan Portugis, diadakan perjanjian damai pada tanggal 22 April 1529. Perjanjian damai itu dikenal sebagai perjanjian Saragosa. Perjanjian Saragosa merupakan tindak lanjut dari perjanjian Tordesillas pada tanggal 7 juni 1494. Isi perjanjian Saragosa pada intinya adalah sebagai berikut :

1. Bumi ini dibagi atas dua pengaruh, yaitu atas pengaruh bangsa Spanyol dan Portugis.
2. Wilayah kekuasaan Spanyol membentang dari meksiko ke arah barat sampai ke Filipina. Adapun kekuasaan Portugis membentang dari Brasil ke arah timur sampai ke Kepulauan Maluku


Setelah perjanjian disepakati kedua belah pihak, Spanyol kembali ke Filipina. Adapun Portugis berkuasa atas Kepualuan Maluku dan sekitarnya. Pada akhir abad ke 16 dan awal ke 17, Belanda memberangkatkan empat buah kapal ke Indonesia. Ekpedisi dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Mereka berlayar menyusuri pantai barat Afrika untuk sampai di Tanjung Harapan. Setelah itu dengan mengarungi Samudra Hindia sampailah mereka di Indonesia melalui selat Sunda.

Pada tahun 1596, empat kapal Belanda mendarat di Banten. Saat itu Banten menjadi pusat perdagangan lada putih. karena sikapnya yang kurang bersahabat, Belanda tidak mendapat simpati dari penguasa dan rakyat Banten. Belanda kemudian mencoba mengalihkan pembelian rempah-rempahnya ke Maluku. Usaha ini pun gagal sehingga mereka kembali ke negerinya. Meskipun gagal dalam ekpedisi pertama, Belanda berhasil merintis jalan untuk ekpedisi berikutnya. Pada ekspsdisi selanjutnya Belanda bersikap baik terhadap masyarakat yang dijumpainya. Hasilnya, beberapa perusahaan Belanda yang mengirim ekpedisi dagangnya ke Indonesia berhasil menjalin hubungan dengan penguasa pribumi. Belanda pun berhasil memperoleh keuntungan yang besar dari perdagangannya.


Banyaknya pedagang Belanda yang datang ke Indonesia telah mendorong terjadinya persaingan sengit di antara mereka sendiri. Untuk menghindari persaingan tersebut, atas usul anggota parlementer Belanda, Johan van Oldenbarneveldt dibentuklah perkempulan dagang bersama. Usulan tersebut disambut positif sehingga pada tanggal 20 Maret 1602 berdirilah Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) atau Persekutuan Dagang Hindia Timuir. Adapun tujuan dibentuknya VOC antara lain yaitu :

a. Menghidari persaingan antarpedagang Belanda
b. Memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan dengan bangsa-bangsa Eropa ataupun dengan bangsa-bangsa Asia
c. Membantu pemerintah Belanda dalam berjuang menghadapi Spanyol yang masih berkuasa