Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 2 of 2
  1. #1

    Pangeran Diponegoro

    Diponegoro lahir di Keraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dengan nama kecil Bendoro Raden Mas Mustahar, jelang fajar saat sahur bulan Ramadhan (Babad Dipanegara, II:45).

    Dalam kronologi Jawa, kelahiran bakal calon raja Jawa ini menunjukkan pertanda baik.

    Tepat bulan Sura, bulan pertama tahun Jawa, dimana secara tradisional kerajaan2 baru didirikan & siklus sejarah baru dimulai.

    Menarik karena presiden pertama Indonesia, Soekarno, juga seorang putra fajar pembuka abad XX & melihat dirinya dianugerahi takdir istimewa.

    Ayah Diponegoro adalah putra sulung Sultan Hamengku Buwono II dari istri resmi atau permaisuri, Ratu Kedaton, keturunan raja Madura yang rajin beribadah.

    Saat dibawa ke Sultan Mangkubumi oleh ibunya, raja lanjut usia itu meramalkan bahwa bayi ini (Diponegoro) akan mendatangkan kerusakan yang besar buat Belanda daripada yang pernah ia lakukan saat Perang Giyanti (tahun 1746 s/d 1755).

    Dalam otobiografinya, Diponegoro tidak banyak menyebut ibunya, Raden Ayu Mangkorowati, selir dari (bakal) Sultan Hamengku Buwono III, yang adalah keturunan tokoh besar Kiai Ageng Prampelan, yang hidup sejaman dengan raja Mataram pertama, Panembahan Senopati.

    Catatan menunjukkan Diponegoro dekat dengan ibunya yang meninggal pada 7 Oktober 1852 di Yogyakarta, hanya selang dua tahun sebelum Diponegoro wafat pada 8 Januari 1855 di Makassar.

    Setelah Ratu Ageng, nenek buyutnya, wafat pada 17 Oktober 1803, Diponegoro intensif berhubungan dengan ulama yang tinggal di sekitar desa Tegalrejo.

    Tegalrejo sendiri adalah kawasan pertanian yang dibangun atas perintah Ratu Ageng setelah meninggalkan kraton Yogya pada awal 1790-an.

    Pada saat wafatnya Ratu Ageng, Tegalrejo sudah menjadi kompleks hunian yang mengesankan dengan aneka taman, kebun buah dan kolam. Pengunjung Belanda yang datang pada 1840-an memeriksa reruntuhannya merasa kagum.

    Ketika hidupnya, Ratu Ageng, telah mendorong para tokoh agama untuk mengambil tempat tinggal di Tegalrejo, di antaranya Kiai Muhamad Bahwi yang dalam Perang Jawa dikenal sebagai Muhamad Ngusman Ali Basah dan Haji Badarudin, Komandan Korps Suranatan.

    Dalam babadnya, Diponegoro menceritakan banyaknya perbaikan dan perluasan tempat untuk menampung santri pengembara dan diskusi agama yang jumlahnya melampaui jumlah pada masa neneknya.

    Ia juga membangun sendiri tempat semadi di Selorejo, di luar tembok timur laut Tegalrejo, dimana ia sering bersemadi dan berdoa. Tempat ini dikelilingi parit yang dalam dan diisi berbagai jenis ikan.

    Pangeran juga menata kebun buah, kebun sayur dan semak di tanahnya di Selarong, dekat Goa Secang, Kabupaten Bantul. Tempat ini juga digunakan untuk semadi selama bulan puasa. Ia juga menyebut berbagai jenis binatang yang menemani selama masa semadinya, ikan, kura-kura, burung tekukur, buaya dan harimau.

    Kedekatan terhadap alam inilah gambaran ksatria pengembara (satria lelono) dalam pandangan Jawa.

    Diponegoro kemudian menikahi anak perempuan kiai guru Kasongan, yang pada Perang Jawa bergelar Raden Ayu Retnokumolo.

    Tanah pertanian Tegalrejo, berdekatan dengan empat pusat ahli hukum Islam, yang dikenal sebagai ‘pathok negari’ (pilar negeri), yaitu Kasongan, Dongkelan, Papringan dan Melangi. Yang terakhir ini paling menonjol saat itu, hanya 3 km dari Tegalrejo. Di sini ada seorang guru yang mendapat pengakuan besar sebagai ahli penerjemah teks2 Islam yang sulit, Kiai Taptojani, dan Diponegoro sangat menghormatinya.

    Digambarkan sebagai ulama terpandang, Kiai Taptojani, dicatat dalam Babad versi Surakarta pernah mengunjungi Diponegoro dan memberinya nasihat ‘sudah waktunya bagi Ratu Adil untuk menyatakan diri dan memulai perang suci’.

    Pada 1805 Kiai Taptojani pindah ke wilayah sunan akibat perselisihan dengan penghulu Yogyakarta, tetapi ia tetap menjalin hubungan dengan para ahli agama kondang yang tersebar di Jawa Tengah dan Timur. Ia akrab dengan Kiai Mojo yang tinggal di desa bebas pajak Mojo dan Baderan, dekat Delanggu dan di Pulo Kadang, dekat Imogiri.

    Pengaruh yang luas inilah kemudian menjadi vital ketika Diponegoro meminta dukungan dari ulama pada awal Perang Jawa.

    Bersambung...


    Sumber:

    "Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro", Peter Carey

  2. #2
    permisi, ingin berbagi artikel tentang hubungan Kyai Modjo (Jumal Korib) dari baderan, klaten dan Kaliyoso, Sragen berikut https://datacomlink-blogspot-com.cdn...ntalo.html?m=1
    terima kasih..

Similar Threads

  1. Replies: 0
    Last Post: 10-27-2014, 05:41 AM

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •