Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 2 of 2
  1. #1

    Lanud Adisutjipto

    Pangkalan TNI AU (PAU) Adisutjipto terletak 9 km arah Timur kota Yogyakarta di dataran rendah yang dilindungi gunung & perbukitan. Di ujung timur runway terdapat jalan raya menuju Komplek Akademi TNI AU (AAU) & di selatan ada Skuadron2 Pendidikan.

    Lanud Adisutjipto membawahi satuan yang berada di luar area pangkalan, yaitu Lapangan Terbang (Air Strip) Gading & Satuan Radar (Satrad) Congot.

    Aerodrome Adisutjipto sendiri berada pada koordinat 07.47-110.26E dengan elevasi 359 feet & memiliki panjang runway 2.220 meter serta lebar 45 meter.

    (Catatan: info di atas didasarkan pada tahun penerbitan buku 2003, mungkin saja sekarang ini sudah terjadi perubahan2)

    Ditinjau dari sisi historisnya, Lanud Adisutjipto merupakan titik tolak lahirnya AURI. Di pangkalan yang dahulu bernama Maguwo ini lahir Markas Tertinggi TKR Jawatan Penerbangan yang kelak menjadi TNI AU.

    Di Lanud ini pernah dilakukan penerbangan pertama oleh Almarhum Laksamana Muda Adisutjipto dengan pesawat merah putih dengan menggunakan pesawat latih "Cureng" bekas peninggalan Jepang.

    Organisasi Lanud Adisutjipto disusun dalam 2 tingkat

    1. Tingkat Markas Pangkalan dengan eselon pimpinan Komandan Lanud TNI AU.

    Selain Eselon Pimpinan, ada Eselon Pembantu Pimpinan, Pelayanan & Pelaksana.

    2. Tingkat Pelaksana: Wing Pendidikan Penerbang, yang terdiri atas Skuadron Pendidikan 101, 102 dan 104.

    Sekilas Riwayat Hidup Adisutjipto

    Agustinus Adisutjipto lahir pada 3 Juli 1916 di Salatiga. Ia pernah mengenyam pendidikan Belanda di HIS Katolik Muntilan. Setelah lulus masuk MULO Saint Louis di Ambarawa, lalu melanjutkan sekolah AMS.

    Ayahnya, Roewidodarmo, sebenarnya berkehendak Adisutjipto agar menjadi dokter tapi Adisutjipto ingin sekolah di Militaire Luchtvaart di Breda. Suatu saat keinginan Adisutjipto didengar oleh seorang Pangeran di Surakarta yang bersedia membiayainya sekolah di Breda dengan syarat mau jadi menantunya tapi Adisutjipto menolak baik2.

    Untuk sementara ia harus melupakan cita2 sekolah di Breda & terpaksa melanjutkan sekolah di Geneeskundige Hoge School (GHS) atau Sekolah Kedokteran. Beruntung ia dipertemukan dengan Prof. Dr. Abdurrahman Saleh, seorang ahli ilmu faal.

    Ia pernah mencoba daftar di Sekolah Penerbangan di Semarang tapi gagal karena tidak ada surat persetujuan dari orang tua. Tahun berikutnya ia mendaftar kembali dengan surat tembusan ke Residen di Semarang & Asisten Residen di Salatiga. Asisten Residen yang kenal baik ayahnya kemudian memanggil Roewido & membujuknya agar mengijinkan Adisutjipto daftar sekolah penerbangan. Cita2nya pun tercapai dengan mengikuti Sekolah Penerbangan di Bandung.

    Setelah lulus, Adisutjipto mendapatkan pangkat Letnan Muda Penerbang & ditugaskan di Skuadron Pengintai di Jawa. Adisutjipto kemudian mendapatkan Kleine Militaire Brevet, Groot Militaire Brevet & Observer Brevet.

    Adisutjipto kemudian diangkat menjadi pembantu utama Kapten Clason, Sekretaris Militaire Luchvaart untuk Hindia-Belanda.

    Tiga bulan sebelum kapitulasi Jepang, Adisutjipto sempat menikah dengan S. Rahayu.

    Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, Adisutjipto aktif menghimpun pemuda2 dari Salatiga dsk, untuk latihan militer yang kemudian tergabung dalam BKR. Kelompok ini berhasil merebut pangkalan udara & kantor Jidosya Jumukyoku tempat ia bekerja. Kemudian bendera hinomaru diturunkan & diganti Merah Putih. Namun pesawat yang didapati hanya pesawat peninggalan Jepang yang rusak. Perebutan Pangkalan Udara Maguwo dari tentara Jepang terjadi pada tanggal 6-7 Oktober 1945.

    Saat sedang mengatur siasat pertahanan, datang teman lamanya di Militaire Luchtvaart, Mayor TKR Tarsono Rujito, sebagai utusan khusus Suryadarma untuk mengajak Adisutjipto mendirikan TKR Jawatan Penerbangan. Ia pun memenuhi panggilan itu & memperbaiki pesawat2 yang rusak jenis Nishikoren, Cureng dan Cukiu.

    Hasilnya, sebuah pesawat Cukiu berhasil diterbangkan oleh rekannya, Pantoh sedangkan Adisutjipto berhasil menerbangkan Cureng di atas Yogyakarta pada tanggal 28 Oktober 1945 dengan tanda Merah Putih di badan pesawat.

    Kemudian ia juga berhasil memperbaiki pesawat jenis Nishikoren yang diberi nama "Banteng" & menerbangkannya dengan Tarsono Rudjito pada tanggal 8 Nopember 1945 dari Pangkalan Udara Cibeureum (Tasikmalaya).

    Dengan modal awal pesawat2 rusak inilah di awal 1946 mulai dibuka pendidikan calon penerbang dengan instruktur Adisutjipto. Kadet yang pertama adalah Iswahyudi & Imam Wiryosaputro. Sementara itu telah berhasil diperbaiki 27 pesawat Cureng.

    Pada tanggal 9 April 1946 keluar Penetapan Presiden No 6/SD/1946 yang mengubah TKR Jawatan Penerbangan menjadi TRI AU dengan Komodor Suryadarma sebagai Kasau sedangkan Adisutjipto diangkat sebagai Wakasau dengan pangkat Komodor Muda.

    Tanggal 21-26 Mei 1946 diadakan latihan penerbangan formasi mrnggunakan pesawat Cureng yang diawaki Iswahyudi & Wiryosaputro sedangkan Adisutjipto menerbangkan Cukiu.

    Adisutjipto juga berhasil menerbangkan pesawat jenis pembom yang diberi nama Diponegoro 1 dari Malang ke Maguwo pada tanggal 5 Agustus 1946.

    Suatu ketika Adisutjipto & Tarsono Rudjito mengalami accident yang menyebabkan Tarsono Rudjito sebagai korban gugur pertama AURI dalam latihan. Jenazahnya dimakamkan pada tanggal 13 September 1946 di Salatiga.

    Di bulan Nopember 1946 dilakukan lagi latihan pengeboman di Maguwo bersama Komodor Suryadarma dengan pesawat Guntai & bertepatan dengan kelahiran putra pertama Adisutjipto pada tanggal 4 Nopember 1946 yang diberi nama Franciscus Xaverius Adisutanto.

    Sebulan kemudian diadakan latihan pemboman di atas Laut Jawa dengan Eddy Sastrawijaya, Kepala Bagian Persenjataan AURI.

    Jalan takdir menentukan Adisutjipto berkenalan dengan seorang pengusaha India yang simpati terhadap perjuangan RI, Patnaik, pada bulan Pebruari 1947. Patnaik yang memiliki pesawat Dakota VT-CLA mengijinkan Adisutjipto belajar menerbangkannya bersama Iswahyudi.

    Namun bencana tidak dapat ditolak saat pesawat Dakota yang bertolak dari Singapura menuju Yogyakarta membawa obat2an bantuan PMI ditembak Belanda pada 29 Juli 1947 yang menewaskan Adisutjipto & Iswahyudi. Saat itu Komodor Suryadarma datang secara khusus ke Pangkalan Udara Maguwo untuk menyambut keduanya. Pesawat Dakota sudah berputar2 mengelilingi landasan untuk persiapan pendaratan namun tiba2 muncul pesawat pemburu Kittyhawk milik Belanda yang memuntahkan peluru ke arah Dakota. Tembakan itu mengenai sasaran sehingga Dakota kehilangan keseimbangan lalu meluncur menabrak pohon & terbakar. Peristiwa ini terjadi di daerah Jatingarang, sebelah utara Ngoto dekat Kalicode.

    Seluruh penumpang berikut gugur kecuali A.Gani Handonocokro:

    1. Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto
    2. Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrahman Saleh
    3. Penerbang berkebangsaan Ausie, A.N. Constantine & Nyonya
    4. Co-pilot berkebangsaan Inggris, R. Hazelhurst
    5. Juru Radio Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusumo
    6. Juru Tehnik berkebangsaan India, Bhida Ram
    7. Zainal Arifin, Wakil Perdagangan RI di Singapura

    Jenazah para pahlawan korban Dakota dimakamkan di Pakuncen, Yogyakarta. Saat itu selain Merah Putih, bendera Union Jack & India berkibar setengah tiang.

    Sebagai balas jasa negara atas pengabdian & pengorbanannya, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Garuda & Mahaputra Tingkat IV kepada almarhum Adisutjipto & menaikkan pangkatnya menjadi Laksamana Muda Anumerta Adisutjipto.

    Kemudian tanggal kejadian 29 Juli ditetapkan sebagai Hari Bhakti & nama PAU Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto pada tanggal 29 Juli 1947.


    Sumber:

    "Lanud Adisutjipto Tempo Doeloe Hingga Sekarang"

  2. #2
    sampai sekarang masih aktif di operasikan

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •