Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 4 of 4
  1. #1

    Legiun Mangkunegaran II

    Sejarah Legiun Mangkunegaran berjalan seiring dengan Praja Mangkunegaran.

    Nama “legiun” sendiri mengadopsi dari kata kesatuan militer Perancis saat Napoleon Bonaparte menguasai Jawa sejak 1808 s/d 1811. Dengan maksud untuk menghalau gempuran tentara Inggris, maka Menteri Kelautan dan Koloni Laksamana Denis du Decres (1801 – 1815) untuk mengirimkan 10.000 prajurit legionnaire ke Jawa. Dalam kenyataannya, yang bertempur nanti adalah gabungan pasukan Perancis-Belanda dengan prajurit Jawa yang dimotori oleh Legiun Mangkunegaran.

    Saat Herman Willem Daendels berkuasa sebagai Gubernur Jenderal, Legiun Mangkunegaran yang diklaim kuat dan modern di Asia saat itu, diresmikan sebagai satuan militer dengan struktur Grande Armee Napoleon pada 1808. Menurut catatan, Amerika Serikat yang merdeka akhir 1778 pun mendapat bantuan dari pasukan legionnaire di bawah pimpinan Jenderal Lafayette.

    Demi mengenang kebesaran Napoleon Bonaparte, pujangga Jawa dari kerajaan Mataram membuat catatan yang dikenal dengan sebutan Babad Napoliyon.

    Embrio Legiun Mangkunegaran dimulai sejak terjadinya Perang Sepanjang atau Geger Pecinan dimana Raden Mas Said atau Mangkunegara I menjadi salah satu tokoh penting yang membantu pemberontakan warga Tionghoa atas perbuatan semena2 VOC sekaligus sebagai wujud protes atas ketidakadilan yang terjadi di Jawa. Menurut catatan, pasukan RM. Said ini terlibat dalam 250 kali pertempuran selama masa 16 tahun gerilya & tidak terkalahkan.

    RM. Said kemudian membentuk satuan militer yang dikenal dengan prajurit Mangkunegaran, yang terdiri atas:

    Ladrang Mangkukung Estri (60 prajurit berkuda & berkarbin wedung)

    - Jayengsastra (44 berkuda & keris)
    - Bijigan (44 berkuda & keris)
    - Kapilih (44 berkuda & keris)
    - Tramrudita (44 berkuda & pedang)
    - Margarudita (44 berkuda & pedang)
    - Tanusastra Nampil (44 berkuda & keris)
    - Mijen (44 berkuda, panah & keris)
    - Nyutrayu (44 berkuda, panah & keris)
    - Gulangula (44 jalan kaki, panah & keris)
    - Sarageni (44 jalan kaki, panah & keris)

    Tidak ada penjelasan mengapa RM. Said menggunakan formasi 44 saat menyusun jumlah pasukan.

    Sebenarnya, pada masa dipimpin oleh RM. Said, wanita Jawa sudah turut berpartisipasi dalam pertempuran dengan menjadi bagian dari Legiun Mangkunegaran. Bahkan menurut Babat Tutur yang bertarikh Jimawal 1717 atau 1791 Masehi, keberadaan wanita Jawa dalam Korps Prajurit Estri di lingkungan kerajaan Jawa Kuno sudah tercatat. Babad ini mencatat perjalanan prajurit wanita di Legiun Mangkunegaran.

    Keberadaan prajurit wanita Jawa di dalam Legiun Mangkunegaran juga dijelaskan oleh Pejabat VOC, Rijklofs van Goens, yang memperkirakan sekitar 150 perempuan muda dengan 20 di antaranya bersenjata tombak dan sumpit yang berada di sekeliling raja. Rijklofs menambahkan prajurit wanita di dalam Legiun Mangkunegaran tidak hanya mahir menggunakan senjata tapi juga piawai berdendang & memainkan alat musik. Tidak jarang prajurit wanita ini dihadiahkan kepada bangsawan untuk dijadikan istri.

    Dalam cerita Geger Pecinan, Kapitan Sepanjang adalah guru militer Mangkunegara I & mereka bersama2 menghadapi VOC yang dibantu oleh Keraton Surakarta dan pasukan Cakraningrat dari Sumenep, Madura.

    Epilog Geger Pecinan adalah diadakannya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Pebruari 1755 di desa Giyanti, Karang Anyar, dimana salah satu butir perjanjian adalah membagi wilayah kekuasaan Mataram menjadi 2, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Setelah itu disepakati juga Perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757 yang membagi wilayah Surakarta menjadi Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran..

    Dinasti Mangkunegara I dilanjutkan oleh Aria Prabu Prang Wedono yang dinobatkan sebagai Mangkunegara II. Pada masa inilah Legiun Mangkunegaran II resmi dilatih dengan standar militer pasukan legionnaire Perancis. Mereka pernah menahan laju pasukan Sepoy (British India) asal Benggala dan Royal Marines saat pertempuran di Jatingaleh, Semarang. Tapi akhirnya harus mengakui keunggulan pasukan Inggris dan menyerah di wilayah Tuntang, Salatiga.

    Legiun Mangkunegaran sempat dibubarkan pada masa pemerintahan Inggris tapi diaktifkan kembali pada 13 Pebruari 1812. Saat Jenderal Thomas Stanford Raffles bertikai dengan Keraton Yogyakarta, Legiun Mangkunegaran sempat dilibatkan Inggris untuk mengepung Keraton Yogyakarta. Di era Daendels, Legiun Mangkunegaran juga pernah dikirim penguasa Perancis untuk menekan Keraton Yogyakarta.

    Legiun Mangkunegaran juga pernah dilibatkan dalam pengamanan Pulau Bangka selama 6 bulan dan perang melawan Pangeran Diponegoro. Perang Jawa ini adalah peperangan terbesar yang pernah diikuti oleh Legiun Mangkunegaran.

    Pada masa Pangeran Ario Gondoisworo sebagai Mangkunegara IV, dilakukan reorganisasi dan moderenisasi termasuk pembuatan buku panduan Soldat Sekul (Sekolah Prajurit) pada tahun 1855 dan mendatangkan pelatih profesional dari Eropa.

    Legiun Mangkunegaran dilibatkan dalam Perang Aceh (Kedua) di bawah pimpinan Mangkunegara IV pada tahun 1873. Atas jasanya memimpin Legiun Mangkunegaran selama Perang Aceh, Raja Belanda menganugerahkan Ridder Kruis (Rider Cross) atau Salib Bangsawan Militaire Willems Orde (MWO) Kelas IV (catatan: mungkin setara dengan penghargaan Victoria Cross atau Salib Victoria dalam Kerajaan Inggris.

    Di jaman Mangkunegara VI, jumlah prajurit Legiun Mangkunegaran dikurangi karena sikon saat itu dirasakan sudah cukup aman.

    Pada tanggal 8 Desember 1941, semua Kortverbanders (KV) atau Dinas Pendek dan Wachtgeldera yang sudah “groot verlof” (dewasa) dipanggil lagi, untuk mengantisipasi serbuan tentara Jepang. Namun saat Jepang berkuasa, Legiun Mangkunegaran dibubarkan. Di masa revolusi kemerdekaan, pensiunan Legiun Mangkunegaran banyak terlibat sebagai anggota Bataliyon Teritorium Surakarta.

    Di kompleks Pura Mangkunegaran masih berdiri kokoh gedung Kavallerie – Artillerie yang dulu digunakan sebagai tangsi militer Legiun Mangkunegaran.


    Sumber:

    - “Legiun Mangkunegaran (1808 – 1942)”, Iwan Santosa

    - “Petite Histoire de L’Indonesie et du Francais (1800 – 2000)”, Iwan Santosa, et.al).

  2. #2
    Mangkunegara memang menjadi tombak utama Kerajaan Banten pada saat itu dalam melakukan pemberontakan pada Pemerintah Daendels. Sayang beliau terbunuh dalam serangan yang dilakukan Belanda. Dan mirisnya jasadnya pun dibuang ke laut oleh Belanda
    Sedih sekaligus bangga negara ini punya sosok sosok panutan yang begitu rela berkorban demi wujudkan kemerdekaan

    malu buat pemuda pada zaman saat ini yang lebih mementingkan hura-hura dan pertikaian yang mengatasnamakan rakyat
    Sejarawan muda - www.siputro.com
    Belom ada yang memiliki

  3. #3
    Quote Originally Posted by siPutro View Post
    Mangkunegara memang menjadi tombak utama Kerajaan Banten pada saat itu dalam melakukan pemberontakan pada Pemerintah Daendels. Sayang beliau terbunuh dalam serangan yang dilakukan Belanda. Dan mirisnya jasadnya pun dibuang ke laut oleh Belanda
    Sedih sekaligus bangga negara ini punya sosok sosok panutan yang begitu rela berkorban demi wujudkan kemerdekaan

    malu buat pemuda pada zaman saat ini yang lebih mementingkan hura-hura dan pertikaian yang mengatasnamakan rakyat
    mereka belum sadar sulitnya berjuang
    hanya mementingkan ego yang bahkan bergerak hanya karena pesanan

  4. #4
    saya bisa belajar lebih banyak sejarah mangkunegara di artikel ini
    Disini kami akan memberitahukan anda cara cepat move on yang bisa anda gunakan dan terapkan dengan mudah dan efektif.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •