Silahkan login/daftar untuk bisa melakukan posting thread atau komentar di forum

Selamat Datang di Sejarawan.com

Indonesian forums and Libraries

Jadilah bagian dari kami, temukan dan diskusikan sejarah besar Bangsa Indonesia di sini

Member Login

Not a member yet? Sign Up!

Results 1 to 2 of 2
  1. #1

    Rangkain Peristiwa Heroik di Surabaya (1)

    Bagian (1): Pengibaran Bendera Merah Putih di Hotel Yamato


    Karena keterbatasan alat komunikasi maka ketika kemerdekaan diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 hanya diketahui oleh segelintir orang di Surabaya. Proklamasi kemerdekaan baru diketahui secara massal di Surabaya pada hari Senin, 20 Agustus 1945 karena naskah proklamasi dimuat di dalam Surat Kabar Soeara Asia, satu2nya surat kabar yang ada di Jawa Timur saat itu.

    Dengan terdengarnya gema proklamasi, maka kesibukan terjadi di Surabaya termasuk instansi pemerintahan dengan mengadakan upacara di kantor Fuku Syucokan R. Sudirman yang dalam pidatonya berisi ajakan untuk menjaga kewajiban masing2 untuk mencapai kemerdekaan yang sempurna.

    Para pemuda yang tergabung dalam Panitia Angkatan Muda di bawah pimpinan Doel Arnowo kemudian mengeluarkan pernyataan berdiri di belakang pemerintah RI dan menyebarluaskan teks proklamasi. Mereka juga menyerukan kepada pemuda agar bersiap menghadapi tingkat perjuangan menegakkan kemerdekaan.

    Sementara itu pada 18 Agustus 1945 Jepang membubarkan tentara Peta di Daidan Gunungsari setelah sebelumnya melucuti senjata anggotanya dengan dalih akan diganti dengan senjata yang baru. Muncul persoalan apakah mungkin Indonesia mempertahankan kemerdekaan tanpa mempunyai angkatan perang yang kuat dengan persenjataan yang cukup. Saat itu, organisasi yang masih bersenjata di Surabaya hanya Polisi Istimewa (tokubetsu-tai) dan kempetai Jepang saja.

    Melihat sikon yang kurang menguntungkan tersebut, rakyat mulai menyusun kekuatan. Selain pihak Jepang, ada sekelompok orang yang berusaha menghalangi upaya rakyat di Surabaya, yaitu para Indo Belanda & Ambon, yang mengetahui Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Mereka lalu membentuk Komite Kontak Sosial pada 27 Agustus 1945 yang anggota2nya antara lain: N.W. Bastiaans, Mr. W.V. Ch. Ploegman, J. Hoeksema, C.A. Coenink, dengan disponsori oleh Palang Merah Internasional. Mereka juga berusaha menduduki dan mengambil alih beberapa tempat termasuk Hotel Yamato di Tunjungan. Kedatangan orang2 dari Palang Merah Internasional ini disesalkan oleh rakyat Surabaya karena tanpa kulo nuwun kepada pihak pemerintah RI di Surabaya. Kekesalan para pemuda terakumulasi karena tingkah laku mereka yang congkak dan provokatif sekaligus berlindung di belakang Palang Merah Internasional.

    Untuk mencegah ekskalasi, Cianbuco tentara Jepang pada 30 Agustus 1945 mengeluarkan pengumuman yang ditujukan kepada orang2 Belanda dan Indo-Belanda yang melarang mereka mengibarkan bendera Belanda. Namun demikian, yang terjadi kemudian adalah sebaliknya, puncak kekurangajaran mereka terjadi pada tanggal 19 September 1945 saat bendera Belanda dikibarkan di tiang bendera di atas hotel Yamato.

    (Catatan: Tanggal 19 September 1945 ditulis dalam buku “Surabaya Bergolak” karya R.S. Achmad dan buku “Pertempuran Surabaya” terbitan Depdikbud, sementara buku “Bung Tomo dari 10 Nopember 1945 sampai Orba” menulisnya tanggal 18 September 1945)

    Kejadian ini disaksikan langsung oleh Bung Tomo yang saat itu berprofesi sebagai wartawan dan diceritakan dalam bukunya.

    Saat itu ia melihat keramaian di depan Hotel Yamato. Karena insting wartawannya, ia segera menuju lokasi dengan mengajak wartawan potret “Antara” saudara Wahab. Saat tiba di lokasi, Wahab segera mengabadikan keramaian tersebut dengan kameranya. Tapi yang terjadi kemudian adalah para Indo-Belanda dan orang2 Ambon mengerubungi Wahab yang dikira sebagai Penyelidik Republik. Tiba2 Wahab dihantam bogem mentah dan diikuti dengan pengeroyokan. Bung Tomo segera menghampiri untuk menyelamatkan Wahab dan menjamin kepada orang2 Indo-Belanda itu bahwa Wahab adalah wartawan. Namun mereka masih belum puas dan meminta Wahab untuk menyerahkan kameranya. Hal tersebut akhirnya terpaksa dipenuhi Bung Tomo dan Wahab untuk menjaga keselamatan mereka berdua.

    Kejadian ini diingat oleh Bung Tomo sebagai berikut:

    “Sejak saat itu, tertanamlah dalam jiwaku suatu perasaan tanggung jawab yang lebih besar terhadap Negara mudaku. Aku sadar bahwa benar2 terdapat anasir2 yang memusuhi Republikku ini…”

    Lebih lanjut, biang keladi pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato menurut Bung Tomo adalah Ploegman dan Spit. Tetapi mereka berdua tidak mungkin berani mengibarkan bendera tanpa merasa adanya dukungan di belakang mereka. Kedatangan “utusan2 sekutu” yang telah bertemu dengan pemimpin tentara Jepang di Surabaya dianggap sebagai jaminan dukungan atas tindakan mereka.

    Beberapa orang Indo-Belanda dengan angkuhnya berdiri di ruangan yang berada persis di bawah tiang bendera. Pada saat itu pemuda2 Surabaya makin banyak yang berkumpul dengan bermacam2 persenjataan bersiap untuk melakukan aksi. Dengan segera batu2 dilemparkan ke arah mereka & memaksa orang2 Indo-Belanda itu mencari perlindungan. Para pemuda semakin bergerak maju tiba2 terdengar suara tembakan. Suasana makin tidak terkendali dan tanpa ada yang mengkomando para pemuda menyerbu hotel dengan senjata yang ada. Sasarannya semakin jelas, bendera tiga warna yang tengah berkibar. Sempat diiringi perkelahian antara para pemuda dengan orang2 yang pro Belanda dari dalam hotel.

    Seseorang pemuda berhasil memanjat atap hotel tapi kemudian dihantam pukulan seorang Belanda dari belakang. Tapi seorang pemuda lainnya bergantian memanjat dan sekonyong2 naiklah beberapa tangga yang memudahkan pemuda lainnya mencapai tiang bendera. Tujuan pun tercapai, bendera triwarna diturunkan dan rakyat pun bersorak gembira.

    Beberapa detik kemudian terjadi kejutan, ternyata setelah bendera tri warnya diturunkan, warna biru disobek dan bendera yang tinggal dwiwarna dinaikkan, diiring sorakan “merdeka! merdeka! merdeka!”

    (Catatan: Dalam buku “Surabaya Bergolak” penyerbuan ke hotel digambarkan terjadi pukul 10.30 dan salah satu pemuda tersebut adalah Kusnowibowo)

    Serdadu kempetai yang ada di sekitar kejadian hanya diam melihat kejadian dramatis tersebut, sementara orang2 Belanda melarikan diri ke belakang hotel. Plogeman sebagai biang keladi pengibaran bendera triwarna menemui ajalnya.

    (Catatan: dari 3 buku yang sudah disebut di atas, tidak dijelaskan bagaimana tewasnya Plogeman)

    Untuk diketahui, pada tanggal 19 September 1945 saat di Surabaya terjadi peristiwa pengibaran bendera merah putih di Hotel Yamato, di Jakarta juga terjadi peristiwa penting dimana ribuan rakyat Indonesia yang datang dari berbagai wilayah berkumpul dalam rapat umum di Lapangan Ikada untuk mendengarkan pidato singkat Bung Karno yang baru terpilih sebagai presiden.

    Bersambung…


    Sumber:

    1. “Bung Tomo, dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru”, Frans M. Parera

    2. “Surabaya Bergolak”, R.S. Achmad

    3. “Pertempuran Surabaya”, Depdikbud

  2. #2

Similar Threads

  1. Rangkaian Peristiwa Heroik di Surabaya (4)
    By opie in forum Kolonialisasi
    Replies: 2
    Last Post: 02-26-2018, 01:41 PM
  2. Rangkaian Peristiwa Heroik di Surabaya (3)
    By opie in forum Kolonialisasi
    Replies: 1
    Last Post: 02-02-2018, 11:12 AM
  3. Rangkaian Peristiwa Heroik di Surabaya (2)
    By opie in forum Kolonialisasi
    Replies: 1
    Last Post: 01-29-2018, 11:21 AM
  4. Pertempuran Surabaya ( 10 November 1945 )
    By Wallet Kecil in forum Orde Lama
    Replies: 1
    Last Post: 06-04-2014, 07:59 PM

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •