Anda mungkin sudah familiar dengan PKI atau partai komunis Indoensia yang muncul pada abad ke-20 di Indonesia. PKI dianggap menjadi salah satu momok dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indoesia karena kisah kekejamanya dalam sejarah G30 S/PKI. Namun ternyata partai politik yang bertujuan menciptakan negara komunis ini pertama kali dibawa oleh pegawai bangsa Belanda yang berhadluan Komunis.


Adalah Sneevlit, seorang pegawai Belanda yang aktif menyebarkan ajaran komunis. Sneevlit berusaha untuk mendapatkan simpati masyarakat dengan memanfaatkan keadaan masyarakat pribumi yang saat itu berada dalam posisi dijajah. Adapaun salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menjalin hubungan dengan Semaun, seorang Ketua Sarekat Islam cabang Semarang.

Agar lebih leluasa dalam menyebarkan ajaran komunisnya Sneevlit pada tahun 1914 mendirikan organisasi Indische Social Demokratische Vereeniging (ISDV) yang berpusat di Semarang yang condong ke arah marxis. Bersama dengan Semaun Sneevlit mulai mepengaruhi anggota Sarekat Islam dan menanamkan paham marxis. Ini menjadi awal keretakan Sarekat Islam yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto, (baca sejarah sarekat Islam). Dan pada akhirnya mereka berhasil dan Sarekat Islam pun terbagi menjadi 2 haluan Sarekat Islam Putih dengan Hos Cokroaminoto dan Semaun dengan Sarekat Islam Merah.

Pada tahun 1920 akhirnya Sarekat islam yang dipimpin oleh Semaun ini bergabung dengan ISDV untuk membentuk Partai komunis Indoensia atau PKI dengan Semaun sebagai Ketua dan Darsono sebagai Wakil. Namun beberapa tokoh Belanda yang tergabung dalam ISDV tidak setuju dengan pembentukan PKI. Mereka kemudian memisahkan diri dan membentuk Indische Social Demokratische Party (ISDP) dan mengangkat F. Bahler sebagai ketuanya.

ISDP menjadi salah satu contoh ketidak harmonisan hubungan antara pki dengan bangsa belanda. Hubungan keduanya semakin merenggang terlebih ketika terjadi pemogokan-pemogokan kerja yang mengarah pada timbulnya konflik anatara Belanda dngan PKI. Hingga pada tahun 1926 PKI melakukan pemberontakan di wilayah Jawa Barat dan pada tahun 1927 di Sumatera Barat. Namun Belanda berhasil menggagalkan perlawanan PKI. Setelah pemberontakan itu pada tahun 1927 pemerintah kolonial Belanda menyatakan bahwa PKI sebagai partai terlarang.

Kegagalan PKI ini membuat parah tokohnya seperti Muso, Alimin dan tokoh lainnya melarikan diri ke luar negeri. Sedangkan tokoh PKI yang tidak setuju dengan adanya pemberontakan memilih untuk melarikan diri ke Thailan dan membentuk partai baru yakni Partai Republik Indonesia atau PARI yang berpusat di Bangkok.